
Kenangan dan Kehidupan Malam di Pangkalan Bun
Pada suatu sore, setelah berkeliling menelusuri sejarah kota Pontianak, Gusti Hardi Syarifudin, yang dikenal sebagai calon magister dengan selera humor yang luar biasa, mengantarkanku kembali ke hotel. Kali ini, kami saling bertukar peran. Setelah saya menumpang mobilnya yang penuh aroma kopi, ia pun akhirnya memanfaatkan kamar mandiku untuk mandi. Ia berkata, "Biarkan kerabat Sultan ini sedikit terlihat segar, Bang, sementara air panas di hotel masih lancar!"
Setelah keluar dari kamar mandi dengan aroma sabun hotel yang khas, kami melanjutkan perjalanan menuju 703 Coffee. Rencananya adalah sekadar menikmati secangkir kopi sambil menikmati pemandangan kota dari rooftop. Konon katanya, tempat ini bisa membuat stres hilang. Semakin lama, tingkat kecanduan saya terhadap kopi semakin meningkat, seiring dengan semakin akrabnya hubungan saya dengan Gusti yang sudah lama tidak bertemu.
Di bawah langit senja Pontianak yang mulai memerah, sambil menikmati secangkir kopi single origin (yang harganya cukup menguras dompet, tetapi demi persahabatan, itu semua layak), Gusti mulai membuka kembali kenangan tentang masa lalu di Pangkalan Bun.
"Masih ingat zaman kita di Pangkalan Bun, Bang?" tanyanya, matanya menerawang jauh ke depan. "Dulu Abang itu reporter paling nekad yang pernah saya kenal. Misinya mulia, tapi jalannya 'gelap'!"
Saya hanya tersenyum simpul, mengingat masa lalu. Saat itu, saya adalah seorang reporter Ibukota yang ditugaskan untuk meliput tragedi jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501. Tragedi kemanusiaan yang membuat Pangkalan Bun tiba-tiba menjadi pusat perhatian dunia.
"Dulu saya sering memberikan informasi eksklusif tentang dunia malam yang remang-remang di Pangkalan Bun kepada Abang," kata Gusti sambil tertawa. "Ingat spot karaoke Melati Berduri (bukan nama sebenarnya)."
Mendengar perkataannya, ingatanku kembali terbang ke masa lalu. Gusti, yang ternyata memiliki gelar keluarga Kesultanan Kotawaringin karena juriat Sultan (yang membuatnya semakin percaya diri), adalah sumber informasi terbaik saya. Bukan soal politik atau ekonomi, tapi tentang kehidupan malam di kota yang tiba-tiba ramai oleh tim SAR internasional, militer, dan wartawan dari berbagai belahan dunia.
Bayangkan saja; siang hari, saya meliput konferensi pers Kepala Basarnas dengan wajah serius, berkutat dengan data manifes dan titik koordinat jatuhnya pesawat di Selat Karimata. Malam harinya? Saya berganti peran menjadi agen rahasia, menyusuri dunia remang-remang Pangkalan Bun berkat petunjuk dari Gusti.
"Abang itu menyelam sambil minum air (Sungai Arut), Bang!" canda Gusti. "Liputan pesawat jatuh iya, investigasi dunia remang-remang plus-plus iya. Multi-talent!"
Fokus liputan resmiku adalah tragedi QZ8501 yang menyentuh hati seluruh Indonesia. Tapi, berkat informasi eksklusif dari Gusti, liputanku jadi memiliki dimensi lain. Aku menulis cerita tentang bagaimana Pangkalan Bun yang tenang tiba-tiba menjadi kota metropolitan dadakan, lengkap dengan cerita sampingan tentang fenomena sosial di tempat hiburan malam yang kebanjiran pengunjung asing.
Hasilnya? Boom! Artikelku meledak di kantor. Banyak pujian yang aku dapatkan dari redaktur. Mereka mengira aku sangat mahir dalam melakukan deep reporting, padahal modal utamanya cuma Gusti dan secangkir kopi murah di warung pojok RSUD Sultan Imanuddin, Pangkalan Bun dulu.
Di rooftop 703 Coffee, Gusti menyelesaikan ceritanya. Matahari telah tenggelam sempurna, digantikan oleh lampu kota Pontianak yang mulai menyala.
Pada malam itu, di atas rooftop 703 Coffee, aku sadar; hidup ini penuh plot twist, dan terkadang, sejarah terbaik dibuat dari secangkir kopi, dunia remang-remang, dan tragedi yang tak terduga—dengan bumbu guide dadakan.
"Bang," panggil Gusti, wajahnya serius, menatap mataku lekat-lekat—kali ini tanpa cengengesan.
"Apa lagi, Gus? Mau insight S2 soal sejarah kopi?" tanyaku.
"Bukan. Insight-nya adalah; Kita berdua ini bukti nyata kalau pertemanan yang valid itu berasal dari warkop pojok dan kehidupan malam Pangkalan Bun!" sahutnya.
Kami berdua terdiam sejenak, meresapi kebenaran filosofis dari joke terakhirnya yang super absurd itu, lalu tertawa terbahak-bahak sampai pengunjung meja sebelah menatap kami aneh.
0 Komentar