Pegiat Literasi Kabupaten Probolinggo Rumuskan Program Strategis untuk Perkuat Budaya Baca Masyarakat

PROBOLINGGO – Upaya memperkuat budaya baca dan meningkatkan indeks literasi terus digencarkan oleh para pegiat literasi di Kabupaten Probolinggo. Puluhan penggerak literasi dari berbagai kecamatan se-Kabupaten Probolinggo berkumpul dalam forum diskusi intensif yang digelar di Perpustakaan Daerah Kabupaten Probolinggo, Rumah Pojok Pustaka Inspirasi, Kraksaan, Jumat (23/1/2026).

Forum ini menjadi ruang temu lintas komunitas yang melibatkan pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM), komunitas penulis lokal, pustakawan desa, relawan pendidikan nonformal, hingga aktivis literasi independen. Pertemuan tersebut bertujuan merumuskan program strategis bersama untuk menjawab tantangan literasi yang kian kompleks, khususnya di tengah derasnya arus informasi digital.

Para peserta sepakat bahwa gerakan literasi di Kabupaten Probolinggo membutuhkan pendekatan baru yang lebih kolaboratif dan adaptif. Selama ini, banyak inisiatif literasi telah berjalan di tingkat desa dan kecamatan, namun masih bersifat sporadis dan belum terhubung dalam satu kerangka gerakan bersama.

Salah satu inisiator kegiatan, Bambang, S.P.I., menegaskan bahwa forum diskusi ini merupakan momentum penting untuk menyatukan visi dan langkah para pegiat literasi. Menurutnya, potensi besar yang dimiliki masing-masing komunitas akan berdampak lebih luas jika dikelola secara terarah dan terintegrasi.

“Banyak teman-teman pegiat literasi yang sudah bergerak luar biasa di wilayahnya masing-masing, tetapi masih berjalan sendiri-sendiri. Melalui forum ini, kita ingin menjahit semua potensi itu menjadi satu gerakan bersama. Kita membutuhkan peta jalan atau roadmap literasi yang jelas agar dampaknya benar-benar dirasakan oleh masyarakat Kabupaten Probolinggo,” ujarnya.

Diskusi berlangsung dinamis dengan mengangkat berbagai persoalan mendasar di lapangan. Salah satu isu utama yang mengemuka adalah belum meratanya akses buku dan bahan bacaan, terutama di desa-desa terpencil. Selain itu, rendahnya minat baca di kalangan remaja serta tantangan literasi digital, seperti maraknya hoaks dan disinformasi, juga menjadi perhatian serius para peserta.

Seiring dengan meningkatnya penggunaan gawai dan media sosial, para pegiat menilai bahwa literasi tidak lagi sebatas kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kecakapan memilah informasi, berpikir kritis, dan memahami konteks digital. Oleh karena itu, strategi penguatan literasi harus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat saat ini.

Dari hasil diskusi dan urun rembuk, para pegiat literasi merumuskan sejumlah rancangan program strategis yang akan menjadi fokus gerakan ke depan. Salah satunya adalah revitalisasi Taman Bacaan Masyarakat berbasis komunitas. Program ini diarahkan agar TBM tidak hanya berfungsi sebagai tempat peminjaman buku, tetapi juga menjadi pusat kegiatan kreatif, ruang belajar bersama, dan simpul interaksi sosial yang inklusif bagi warga.

Program lainnya adalah kampanye literasi digital yang menyasar masyarakat desa. Melalui kegiatan ini, pegiat literasi berencana memberikan edukasi praktis tentang cara memilah informasi di internet, mengenali berita bohong, serta memanfaatkan teknologi digital secara positif dan produktif.

Selain itu, forum juga merumuskan program kolaboratif bertajuk “Pena Probolinggo”. Program ini berfokus pada pendampingan kepenulisan bagi masyarakat dan pegiat lokal untuk mendokumentasikan potensi daerah, sejarah desa, serta kearifan lokal dalam bentuk tulisan dan buku. Diharapkan, program ini dapat memperkaya khazanah literasi lokal sekaligus memperkuat identitas budaya daerah.

Aspek advokasi kebijakan juga menjadi bagian penting dari rumusan strategis tersebut. Para pegiat sepakat untuk mendorong pemerintah desa dan Pemerintah Kabupaten Probolinggo agar memberikan dukungan kebijakan dan anggaran yang lebih berpihak pada pengembangan perpustakaan desa serta kegiatan literasi masyarakat.

Sekretaris Paguyuban Pegiat Literasi Kabupaten Probolinggo, Moh. Khalidi, S.Sos., S.IPust., menegaskan bahwa hasil rumusan ini tidak akan berhenti sebatas wacana. Menurutnya, para pegiat berkomitmen untuk mengawal dan melaksanakan program-program tersebut secara bertahap dan berkelanjutan.

“Rumusan ini bukan sekadar dokumen, tetapi komitmen bersama. Kami akan menjalankannya secara bertahap dan terukur. Kami juga berharap adanya dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Probolinggo agar ekosistem literasi yang kuat dan berkelanjutan benar-benar bisa terwujud,” pungkasnya. (*)

0 Komentar