SITUBONDO – Ratusan Jamaah dari berbagai kalangan usia memadati serambi Masjid Jami’ Al Mubarokah dalam peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW yang dirangkai dengan rutinan pembacaan Shalawat Nariyah 4.444, Selasa malam (13/1/2026). Kegiatan ini berlangsung khidmat dan penuh antusiasme, dihadiri santri, tokoh masyarakat, serta warga sekitar.
Dalam kesempatan tersebut, Habib Fahmi Al Attas menyampaikan tausiyah yang menekankan pentingnya ilmu sebagai kunci kebahagiaan dunia dan akhirat. Ia menjelaskan bahwa Allah SWT memberikan dunia kepada siapa saja, baik yang dicintai maupun tidak dicintai-Nya. Namun, ilmu hanya diberikan kepada hamba-hamba yang dicintai Allah.
“Perangai terbaik seseorang adalah ilmu. Karena tanpa ilmu, seseorang bisa tersesat, bahkan dalam ibadahnya sendiri,” ujar Habib Fahmi di hadapan jamaah.
Ia mengibaratkan seseorang yang mendapat warisan besar namun tidak memiliki ilmu, maka harta tersebut justru akan membawa kehancuran. Hal yang sama, menurutnya, berlaku dalam kehidupan beragama. Tanpa ilmu, seseorang tidak mengetahui apakah ibadahnya sah atau tidak, serta tidak memahami konsekuensi dari dosa-dosa yang diperbuatnya.
Habib Fahmi juga mengingatkan jamaah agar tidak merasa gengsi untuk belajar dan mengakui ketidaktahuan. Menurutnya, tidak ada kata malu dalam mengatakan “saya tidak tahu”. Ia mencontohkan sikap Rasulullah SAW yang memilih diam ketika belum mengetahui jawaban atas suatu pertanyaan, hingga turun wahyu dari Allah SWT.
Selain ilmu, Habib Fahmi menekankan pentingnya birrul walidain atau berbakti kepada kedua orang tua. Ia secara khusus mengingatkan para santri agar tidak bersikap menggurui orang tua meskipun telah lama menuntut ilmu di pesantren.
“Jangan sampai ilmu yang kita miliki justru melukai hati orang tua. Itu sangat berbahaya,” tegasnya.
Ia menyampaikan riwayat yang menyebutkan bahwa memanggil orang tua dengan namanya termasuk bentuk kedurhakaan. Karena itu, ia mengajak jamaah untuk senantiasa mendoakan orang tua, terutama dalam setiap shalat. Menurutnya, tidak mendoakan orang tua dapat menjadi sebab sulitnya rezeki.
Habib Fahmi juga mengisahkan keteladanan Sayyidina Hasan bin Ali yang begitu menghormati ibunya hingga merasa sungkan makan bersama, karena khawatir mengambil makanan yang diinginkan sang ibu.
Dalam tausiyahnya, Habib Fahmi turut mengingatkan pentingnya memilih lingkungan pergaulan yang baik. Ia menegaskan bahwa pergaulan sangat berpengaruh terhadap akhlak seseorang. Banyak anak yang awalnya dididik dengan baik, namun rusak akhlaknya karena salah memilih teman.
“Yang sehat bisa tertular sakit, tapi tidak ada ceritanya orang sakit tertular sehat,” ungkapnya.
Ia juga mengajak jamaah untuk tidak meremehkan pekerjaan dan selalu menghargai hasil kerja sendiri. Menurutnya, bekerja adalah bagian dari kemuliaan hidup. Ia mencontohkan para nabi yang memiliki pekerjaan, seperti Nabi Adam AS yang bercocok tanam, Nabi Idris AS sebagai penjahit, dan Nabi Musa AS yang bekerja kepada Nabi Syuaib AS.
“Meski menjadi ulama, seseorang tetap harus punya pekerjaan. Karena sebaik-baik penghasilan adalah dari hasil kerja sendiri,” katanya.
Pada bagian akhir tausiyah, Habib Fahmi mengulas peristiwa Isra Mikraj sebagai malam yang sangat menghibur Rasulullah SAW. Ia menjelaskan bahwa dalam peristiwa tersebut, Nabi Muhammad SAW mendapat kehormatan bertemu langsung dengan Allah SWT, sebuah pengalaman yang tidak pernah dirasakan nabi atau rasul sebelumnya.
Peristiwa Isra Mikraj, lanjutnya, meski memiliki perbedaan pendapat mengenai waktu kejadiannya, namun telah disebutkan secara jelas dalam Al-Qur’an dan hadis. Dalam peristiwa tersebut, Rasulullah SAW menerima perintah shalat lima waktu, yang menjadi kewajiban utama umat Islam hingga kini. (*)
0 Komentar