PAITON – Peringatan Hari Gizi Nasional (HGN) dimanfaatkan Pondok Pesantren Nurul Jadid untuk memperkuat kesadaran kesehatan di kalangan remaja. Melalui Klinik Azzainiyah, pesantren ini berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo menggelar sarasehan kesehatan bagi santriwati, Selasa (20/01/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Aula 1 Pondok Pesantren Nurul Jadid tersebut diikuti oleh sekitar 200 santriwati dari berbagai wilayah. Sarasehan ini juga menjadi bagian dari rangkaian Haul Masyayikh dan Hari Lahir (Harlah) ke-77 Pondok Pesantren Nurul Jadid, sehingga memiliki makna ganda, baik secara historis maupun edukatif.
Sarasehan kesehatan ini bertujuan memberikan pemahaman menyeluruh kepada santriwati mengenai pentingnya menjaga kesehatan fisik, mental, serta pemenuhan gizi seimbang sejak usia remaja. Lingkungan pesantren dinilai strategis sebagai ruang edukasi kesehatan karena menjadi tempat pembentukan karakter, kedisiplinan, dan kebiasaan hidup sehari-hari.
Kasubbag Humas dan Infokom Pondok Pesantren Nurul Jadid, Ponirin Mika, dalam sambutannya menegaskan bahwa kesehatan merupakan fondasi utama bagi santri dalam menjalani aktivitas pendidikan dan pengembangan diri di pesantren. Menurutnya, semangat belajar dan kualitas ibadah sangat bergantung pada kondisi tubuh yang sehat.
“Kesehatan adalah nikmat besar dari Allah SWT yang harus dijaga. Santri bisa belajar dengan sungguh-sungguh jika tubuhnya sehat. Sebaliknya, ketika kondisi fisik terganggu, semangat belajar pun akan menurun,” ujar Ponirin di hadapan para peserta.
Ia menambahkan, pesantren tidak hanya berfokus pada penguatan aspek keilmuan dan spiritual, tetapi juga bertanggung jawab menyiapkan santri agar memiliki kesadaran hidup sehat sebagai bekal jangka panjang.
Sebagai narasumber utama, dr. Moh. Reza menyampaikan materi seputar tantangan kesehatan di usia remaja, mulai dari pola makan, kebiasaan tidur, hingga pentingnya aktivitas fisik. Ia menjelaskan bahwa masa remaja merupakan fase krusial dalam pembentukan kebiasaan hidup sehat yang akan berdampak hingga usia dewasa.
“Pola hidup sehat sangat memengaruhi konsentrasi, daya tahan tubuh, dan produktivitas belajar. Remaja perlu memahami tubuhnya sendiri agar tidak mudah lelah, stres, maupun sakit,” jelas dr. Reza.
Selain itu, ia juga mengingatkan santriwati untuk lebih bijak dalam mengonsumsi makanan, memperhatikan asupan gizi, serta menghindari kebiasaan yang berpotensi merusak kesehatan, baik secara fisik maupun mental.
Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kabupaten Probolinggo, Sri Wahyu Utami, menekankan pentingnya edukasi kesehatan reproduksi dan perawatan diri bagi remaja perempuan, khususnya di lingkungan pesantren. Menurutnya, pemahaman yang tepat sejak dini akan membantu santriwati mengambil keputusan yang lebih baik untuk masa depan.
“Kegiatan seperti ini penting agar santri memiliki pengetahuan yang cukup dalam merawat diri, menjaga kesehatan reproduksi, dan merencanakan masa depan dengan matang,” ujar Sri Wahyu Utami.
Ia juga memberikan motivasi kepada para santriwati agar tidak terburu-buru mengambil keputusan besar dalam hidup, terutama terkait pernikahan, dan lebih memprioritaskan pendidikan.
“Raih cita-cita setinggi mungkin. Fokuslah pada pendidikan, lanjutkan kuliah, dan persiapkan masa depan sebaik-baiknya. Edukasi kesehatan ini adalah salah satu bekal penting untuk itu,” tegasnya.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Para santriwati tampak aktif menyimak materi dan mengikuti sesi diskusi, menunjukkan tingginya minat terhadap isu kesehatan remaja dan gizi seimbang. (*)
0 Komentar