PT Sidogiri Mitra Utama Puji KH Moh Zuhri Zaini sebagai Teladan Pengelolaan Ekonomi Pesantren

PROBOLINGGO – Kunjungan silaturahmi PT Sidogiri Mitra Utama ke Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Kabupaten Probolinggo, Kamis (22/01/2026), menjadi momentum penting penguatan jejaring ekonomi pesantren. Dalam kunjungan tersebut, jajaran pengurus PT Sidogiri Mitra Utama secara terbuka menyampaikan apresiasi dan pujian kepada Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH Moh Zuhri Zaini, atas pemikiran dan keteladanannya dalam mengelola ekonomi pesantren berbasis nilai-nilai dakwah.

Sebanyak 150 pengurus PT Sidogiri Mitra Utama hadir dalam agenda silaturahmi tahunan yang diniatkan sebagai tradisi “sowan wali”, yakni bentuk penghormatan dan ikhtiar spiritual untuk memperoleh keberkahan dari para masyayikh pesantren. Kegiatan ini juga menjadi ruang dialog dan pembelajaran lintas pesantren terkait pengelolaan usaha dan kemandirian ekonomi umat.

Perwakilan rombongan PT Sidogiri Mitra Utama, Anis Sulaiman, menyampaikan bahwa sosok KH Moh Zuhri Zaini dikenal luas sebagai figur kiai yang konsisten mengintegrasikan nilai dakwah dengan manajemen ekonomi yang tegas dan profesional. Menurutnya, pemikiran Kiai Zuhri menjadi referensi penting bagi pesantren yang tengah mengembangkan unit usaha.

“Kami memandang KH Moh Zuhri Zaini sebagai teladan dalam mengelola ekonomi pesantren. Beliau mampu menjaga nilai-nilai keilmuan dan keikhlasan pesantren, namun tetap tegas dan jelas dalam urusan manajemen bisnis,” ujar Anis.

Ia menambahkan, Pondok Pesantren Nurul Jadid dinilai berhasil menunjukkan bahwa pesantren tidak harus memilih antara idealisme dakwah dan profesionalisme usaha. Keduanya justru dapat berjalan beriringan ketika dikelola dengan visi yang kuat dan sistem yang tertata.

Dalam tausyiahnya, KH Moh Zuhri Zaini menegaskan bahwa kunci keberhasilan usaha pesantren terletak pada kejelasan peran dan pemisahan yang tegas antara urusan sosial dan bisnis. Ia menjelaskan bahwa banyak unit usaha gagal berkembang karena tidak memiliki batas yang jelas antara kepentingan manajemen dan kepedulian sosial.

“Bisnis harus dikelola secara profesional dengan aturan yang jelas. Sedekah dan kegiatan sosial memiliki jalannya sendiri. Ketika dua hal ini dicampur tanpa aturan, maka bisnis sulit berkembang,” tegas Kiai Zuhri.

Pandangan tersebut mendapat perhatian serius dari para pengurus PT Sidogiri Mitra Utama. Menurut Anis, prinsip yang disampaikan Kiai Zuhri sejalan dengan praktik yang telah diterapkan di lingkungan Pondok Pesantren Sidogiri, khususnya dalam menjaga akuntabilitas dan keberlanjutan usaha.

“Kami banyak belajar dari dawuh beliau, terutama soal keberanian bersikap tegas dalam manajemen tanpa kehilangan ruh dakwah. Ini menjadi penguat bagi kami untuk terus menata usaha pesantren secara sehat,” ungkapnya.

Kiai Zuhri juga memberikan apresiasi balik terhadap Pondok Pesantren Sidogiri yang dinilainya sukses membangun kemandirian ekonomi dengan tetap berpijak pada tradisi pesantren salaf. Ia menilai Sidogiri sebagai contoh pesantren yang mampu bertahan dan berkembang karena fokus pada kompetensi sumber daya manusia dan tata kelola yang konsisten.

Selain aspek manajemen, Kiai Zuhri menekankan bahwa dakwah di era modern tidak cukup hanya disampaikan melalui ceramah dan pengajian. Menurutnya, dakwah ekonomi justru menjadi sarana strategis untuk melindungi umat dari praktik ekonomi yang tidak adil dan merugikan.

“Ketika bisnis dijalankan dengan niat menolong umat, itu sudah bagian dari dakwah. Jika niatnya karena Allah, maka usaha akan dijaga keberlangsungannya,” ujarnya.

Di akhir pertemuan, Kiai Zuhri mengingatkan pentingnya integritas dan kerja keras bagi para pengelola usaha pesantren. Ia menegaskan bahwa keikhlasan harus dibuktikan dengan kinerja yang profesional, kepatuhan pada aturan, serta keterbukaan untuk terus belajar, termasuk dari ilmu manajemen modern. (*)

0 Komentar