Tatap Hampa di Pinggir Longsoran: Harapkan Keajaiban untuk Alfa, Cucu Kesayangan yang Tertimbun

Featured Image

Perjuangan Seorang Kakek yang Menunggu Harapan di Tengah Bencana Longsor

Di tengah puing-puing dan material longsoran yang masih basah, seorang lelaki tua berdiri dengan tatapan kosong. Ia memandangi setiap gerakan petugas yang sedang mencari korban di lokasi bencana. Topi rimba dan tas selempang yang ia bawa menjadi ciri khasnya. Nama lelaki itu adalah Teteng (60), yang sejak pagi hari hanya diam sambil menatap tanah di hadapannya.

Teteng tidak banyak berbicara atau bergerak. Tatapan matanya terus mengarah ke tempat longsoran, seolah-olah setiap inci tanah menyimpan sesuatu yang sangat berharga baginya. Yang ia tunggu bukanlah keberhasilan pencarian, melainkan sebuah harapan. Di balik kesedihannya, ia memiliki keyakinan bahwa cucunya, Alfa (13), masih hidup dan bisa ditemukan.

Alfa adalah salah satu dari tiga korban yang tertimbun dalam longsoran yang terjadi di Kampung Condong, Desa Wargaluyu, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung. Longsoran tersebut terjadi pada Jumat (5/12/2025) sore, ketika tanah dari lereng Gunung Sinapeul yang tingginya 80 meter menimpa wilayah tersebut. Pada saat itu, Alfa sedang bersama temannya, Ramdan, yang juga ikut tertimbun namun akhirnya berhasil diselamatkan.

Peristiwa yang Mengubah Hidup Teteng

Dari pengakuan Teteng, kejadian berawal saat dirinya sedang pulang dari ladang. Ia tidak tahu persis apa yang terjadi, tetapi begitu sampai di rumah, ia mendengar suara gemuruh yang menggema dari lereng gunung. Saat itu, ia langsung mencari cucunya, tetapi tidak menemukannya.

Kecemasan mulai menggerogoti pikirannya. Ia bertanya kepada warga sekitar dan akhirnya mengetahui bahwa Alfa berada di lokasi longsoran. Dengan rasa takut dan cemas, ia langsung berlari ke sana. Namun, kondisi di lokasi sangat mengerikan. Ia mencoba memanggil nama Alfa, tetapi tidak ada jawaban. Hatinya hancur dan ia yakin cucunya telah tertimbun.

Meski begitu, ia tetap berharap. Harapan itu datang dari keyakinan bahwa keajaiban bisa terjadi. Ia percaya bahwa Alfa masih hidup dan akan ditemukan dalam keadaan selamat. Ia juga mengungkapkan bahwa Alfa baru saja lulus dari sekolah dasar dan sedang dalam suasana bahagia. Namun nasib buruk menghampirinya.

Rasa Bersalah dan Harapan yang Tak Pernah Padam

Teteng mengaku merasa bersalah karena ia melewati titik longsoran saat kejadian. Meski tidak bertemu dengan Alfa, ia merasa tidak bisa menerima bahwa nasib buruk justru menimpa cucunya. Ia berdoa agar Alfa dapat segera ditemukan dan selamat.

Sementara itu, proses pencarian terhadap ketiga korban yang tertimbun sedang dilakukan oleh pemerintah kabupaten Bandung. Mereka menurunkan personel sebanyak 100 orang yang terdiri dari BPBD, Basarnas, dan TNI/Polri. Selain itu, warga setempat juga turut serta dalam upaya pencarian.

Namun, proses pencarian ini berjalan lambat karena alat berat tidak bisa masuk ke lokasi longsoran. Petugas hanya menggunakan alat manual seperti sekop untuk mencari korban. Meskipun demikian, semangat dan tekad untuk menemukan Alfa dan korban lainnya tetap tinggi.

Semangat yang Tak Pernah Patah

Bagi Teteng, harapan tetap ada. Ia percaya bahwa keajaiban bisa terjadi dan cucunya akan segera ditemukan. Meskipun hatinya hancur dan kehilangan, ia tetap berdoa agar Alfa bisa selamat. Dalam kesedihannya, ia juga merasa bahwa kehilangan ini merupakan ujian terberat dalam hidupnya.

Proses pencarian terus berlangsung, meski dengan tantangan yang besar. Setiap detik yang berlalu, harapan Teteng terus membara. Ia tidak pernah menyerah dan tetap berada di lokasi longsoran, menunggu kabar baik tentang cucunya. Dengan mata yang penuh harapan, ia berusaha tetap kuat, meski hatinya terasa hancur.

0 Komentar