Bulan Suci Menjelang, 7 Persiapan Ramadhan dari Buya Yahya dan Ustaz Adi Hidayat

Bulan Suci Menjelang, 7 Persiapan Ramadhan dari Buya Yahya dan Ustaz Adi Hidayat

Persiapan Menyambut Ramadan yang Harus Diperhatikan

Menjelang datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, umat Islam di seluruh dunia mulai bersiap menyambut bulan penuh ampunan dan keberkahan. Tidak hanya menyiapkan kebutuhan fisik seperti bahan makanan atau perlengkapan ibadah, persiapan batin dan peningkatan kualitas diri juga menjadi hal penting yang perlu diperhatikan.

Dalam berbagai ceramahnya, Buya Yahya dan Ustaz Adi Hidayat (UAH) mengingatkan agar Ramadan tidak dijalani sekadar sebagai rutinitas tahunan, melainkan momentum perubahan menuju pribadi yang lebih bertakwa. Berikut tujuh persiapan menyambut Ramadan yang disampaikan keduanya:

1. Memulai Persiapan Sejak Dini

Buya Yahya menegaskan bahwa tanda seseorang benar-benar merindukan Ramadhan adalah mulai melakukan persiapan sejak jauh hari. “Tanda kalau kita memang rindu kepada Ramadan harus sudah mulai tampak saat ini,” ujar Buya Yahya. Ia mengingatkan agar umat Islam mulai menyiapkan mushaf Al-Qur’an dan membiasakan membaca Al-Qur’an, bukan hanya saat Ramadhan tiba.

2. Tidak Hanya Zahir, Tapi Juga Batin

Menurut Buya Yahya, persiapan Ramadhan tidak cukup sebatas urusan lahiriah seperti makanan atau perlengkapan ibadah. Hati juga harus dibersihkan. “Yang perlu kita persiapkan adalah bukan zahir saja… batin kita,” katanya. Ramadhan adalah bulan pengampunan, namun pengampunan tidak akan diraih jika hati masih dipenuhi kebencian.

3. Berdamai dan Menghilangkan Dendam

Buya Yahya menekankan pentingnya berdamai sebelum Ramadhan. Ia mengingatkan agar umat Islam tidak menyimpan dendam, baik kepada tetangga, kerabat, maupun pasangan. “Mengalah biarpun dia lebih kecil dari kita… karena saya pengen diterima amal saya, saya pengen diampuni oleh Allah,” ujarnya. Ia menyebut, permusuhan dapat menjadi sebab amal tidak diterima dan dosa tidak diampuni.

4. Memperbaiki Hubungan Rumah Tangga dan Sosial

Hubungan yang tidak harmonis, menurut Buya Yahya, dapat memengaruhi kualitas ibadah di bulan Ramadhan. Sebaliknya, jika dilandasi cinta karena Allah, segala aktivitas akan terasa lebih ringan. “Kalau hidup indah saling mencintai karena Allah, luar biasa,” katanya. Tradisi saling berbagi makanan menjelang Ramadhan juga dinilai sebagai sarana mempererat silaturahmi dan menciptakan suasana damai.

5. Tidak Menyia-nyiakan Kesempatan Ramadhan

Sementara itu, Ustaz Adi Hidayat mengingatkan bahwa tidak semua orang mendapatkan kesempatan bertemu Ramadhan setiap tahun. “Belum tentu nikmat itu akan diterima oleh setiap hamba atau mungkin bisa berulang di kesempatan yang berikutnya,” ujar UAH. Karena itu, ia mengajak umat Islam untuk bersungguh-sungguh sejak awal Ramadhan.

6. Meningkatkan Ibadah dan Sedekah

UAH mengutip riwayat Ibnu Abbas tentang Rasulullah SAW yang semakin dermawan dan giat beribadah di bulan Ramadan. “Saya belum pernah melihat Rasulullah semulia ini dalam ibadahnya… kecuali saat Ramadan,” jelasnya. Ia menekankan pentingnya meningkatkan kualitas salat, sedekah, serta interaksi dengan Al-Qur’an.

7. Konsisten Hingga Akhir Ramadhan

UAH juga mengingatkan agar semangat ibadah tidak hanya tinggi di awal Ramadhan, tetapi terus dijaga hingga akhir. “Kalau anda ingin disebut dalam golongan yang serius, pertahankan sampai pertengahannya,” katanya. Menurutnya, tujuan akhir puasa adalah meraih derajat takwa sebagaimana firman Allah, la’allakum tattaqun.

Dengan persiapan lahir dan batin, serta kesungguhan dalam beribadah, Ramadhan diharapkan menjadi momentum perubahan menuju pribadi yang lebih baik dan lebih dekat kepada Allah SWT.

0 Komentar