
Protokol Ekspor Durian Indonesia-China Menjadi Kunci Keberhasilan Pasar Tiongkok
Protokol ekspor yang disepakati antara pemerintah Indonesia dan China menjadi faktor utama dalam memastikan komoditas durian bisa menembus pasar Tiongkok. Badan Karantina Indonesia (Barantin) menjelaskan bahwa setiap pengiriman durian harus memenuhi standar protokol ekspor yang telah ditetapkan.
Direktur Standar Karantina Tumbuhan dari Kedeputian Karantina Tumbuhan Barantin, A M Adnan, mengatakan bahwa protokol tersebut merupakan syarat mutlak untuk setiap pengiriman produk. Ia menyampaikan hal ini saat berada di Jl Sultan Hasanuddin, Kelurahan Lolu Utara, Kecamatan Palu Selatan, pada Kamis (12/3/2026).
Adnan menjelaskan bahwa Barantin memiliki tugas untuk menjalankan kebijakan teknis serta pengawasan di bidang karantina hewan, ikan, dan tumbuhan. Tujuan dari tugas tersebut adalah mencegah masuknya hama dan penyakit, serta mengendalikan penyebarannya.
Dalam kegiatan ekspor durian, khususnya ke pasar China, peran Barantin sangat penting. Standar protokol ekspor mencakup beberapa aspek seperti keamanan pangan, kesehatan tumbuhan atau fitosanitari, serta ketertelusuran asal produk. Ia menekankan bahwa protokol ekspor yang diterapkan oleh Tiongkok sangat ketat, tidak hanya terkait administrasi tetapi juga ketertelusuran asal daerah suatu produk.
“Tugas kami tidak hanya mengurus administrasi, tetapi juga mengedukasi para pelaku usaha (eksportir) hingga petani dalam memperlakukan produk dan tanaman,” ujarnya.
Selain itu, kegiatan lalu lintas ekspor juga diatur dalam Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan. Dalam aturan tersebut disebutkan bahwa setiap kegiatan ekspor wajib dilaporkan kepada pejabat karantina serta dilengkapi dengan sertifikat kesehatan.
Sebelum produk dikirim, Barantin juga melakukan pemeriksaan serta registrasi terhadap rumah kemas atau packing house durian agar memenuhi standar teknis dan kebersihan.
Adnan menyebutkan bahwa Sulawesi Tengah saat ini menjadi salah satu daerah yang berkontribusi besar terhadap ekspor durian ke China. Berdasarkan data Barantin, pengiriman durian beku dari Kabupaten Parigi Moutong ke pasar China dalam dua bulan terakhir mencapai 2.946 ton.
“Saat ini Sulawesi Tengah menjadi daerah yang berkontribusi besar dalam kegiatan ekspor durian ke Tiongkok. Data dirilis Barantin terkait pengiriman durian beku ke pasar Tiongkok berasal dari Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah sejak dua bulan terakhir mencapai 2.946 ton dengan rata-rata per satu kontainer mengangkut 27 ton durian beku,” tutur Adnan.
Ia menilai peluang Indonesia menembus pasar negeri Tirai Bambu masih terbuka luas, mengingat permintaan China terhadap komoditas durian terus meningkat. Sebagai salah satu daerah pemasok utama, Sulawesi Tengah diharapkan mampu menjaga kualitas buah durian, memperkuat sektor pertanian di tingkat hulu, serta meningkatkan profesionalitas pengelolaan rumah kemas.
“Saat ini di Sulawesi Tengah tujuh rumah kemas yang telah teregistrasi oleh Barantin. Di daerah itu sekitar 40 rumah kemas yang akan tumbuh dan kami berharap semuanya bisa teregistrasi untuk berkontribusi ekspor ke Tiongkok. Salah satu syarat pengajuan registrasi yakni rumah kemas harus memiliki mitra petani,” kata dia.
Ia menambahkan, pemerintah Indonesia membutuhkan waktu sekitar tiga tahun hingga akhirnya mencapai kesepakatan ekspor durian dengan pihak Tiongkok. Karena itu, momentum tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh daerah sebagai salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru.
0 Komentar