Duka Anggota DPRD Tebing Tinggi Lihat Jenazah Putrinya, Akui Anak Sempat Merasa Sakit

Peristiwa Pilu di Kamar Kos

Di tengah kesedihan yang menggelayut, Mangatur Naibaho, anggota DPRD Tebing Tinggi periode 2024-2029, duduk di kursi besi di depan kamar jenazah RS Bhayangkara TK II Medan. Ia terlihat masih tidak percaya dengan kejadian yang menimpa putrinya, Maria Agustina br Naibaho. Jenazah Maria ditemukan meninggal dunia di kamar indekosnya di Jalan Rela, Kecamatan Medan Perjuangan pada Kamis (12/3/2026) malam.

Hasil autopsi menunjukkan bahwa tidak ada tanda-tanda kekerasan pada tubuh Maria. Namun, kondisi fisik korban menunjukkan bahwa ia telah meninggal selama sekitar 4 hari di dalam kamar kos. Wajah Mangatur Naibaho terlihat pucat dan berkaca-kaca, sementara keluarga berusaha memberikan dukungan kepadanya.

Peti mati dengan patok salib berwarna putih bertuliskan Maria Agustina Naibaho, yang lahir 1 Agustus 2023 dan wafat 12 Maret 2026, terlihat di depannya. Sebelum jenazah diberangkatkan, Mangatur Naibaho membuka pintu kayu kecil untuk melihat wajah anaknya. Setelah itu, ia dan beberapa anggota keluarga berdiri di depan peti untuk mendoakan Maria Agustina.

Penemuan Jenazah yang Mengejutkan

Penemuan mayat pertama kali diketahui oleh pacar korban, Sanggam Elroi Marbun, yang mendatangi kost korban di Jalan Rela, Kelurahan Sidorejo, Kecamatan Medan Tembung, sekitar pukul 20.00 WIB. Karena tidak adanya sahutan dari dalam kamar dan pintu dalam keadaan terkunci, Sanggam kemudian menyuruh kedua temannya untuk mendobrak pintu kamar korban.

Saat pintu terbuka, Sanggam menemukan korban sudah meninggal dunia dan tercium bau busuk dari kamar korban. Kemudian, Sanggam dan temannya memanggil Ibu Kost dan melaporkan kepada Pihak Kelurahan dan Polsek Medan Tembung. Petugas kemudian datang ke lokasi kejadian dan membawa jenazah Maria ke rumah sakit Bhayangkara Medan untuk dilakukan autopsi.

Pengakuan dari Orang Tua

Mangatur Naibaho mengatakan bahwa dirinya mendapat informasi tentang kematian putrinya ketika sedang dalam perjalanan dari Pekanbaru, Riau. Ia mengungkapkan bahwa Maria Agustina sempat menghubungi istrinya pada Selasa (10/3/2026) dan mengeluh sakit kepala serta suaranya hilang. Namun, tidak ada riwayat penyakit tertentu yang diketahui dari Maria.

Menurut Kompol Ras Maju Tarigan, jenazah korban tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan. Ia juga menjelaskan bahwa korban terakhir kali berkomunikasi dengan orangtuanya dan mengatakan sedang demam. Dari pengakuan orangtua, Maria Agustina terakhir kali mengabarkan sedang demam dan tidak ada lagi kabar setelah itu.

Pengakuan dari Pemilik Kos

Pemilik kos, Br Simangunsong, mengungkapkan bahwa Maria Agustina telah tinggal di kos tersebut selama empat tahun sejak awal masuk kuliah. Ia mengaku hanya mengenal sosok Maria secara sekilas karena korban lebih sering menghabiskan waktu di kamar untuk mengerjakan skripsi.

Kamar kos tempat Maria tinggal kini telah dipasangi garis polisi (police line). Jenazah Maria telah dibawa ke RS Bhayangkara TK II Medan untuk proses autopsi. Keluarga Maria akan membawa jenazah gadis malang itu ke kampungnya di Kabupaten Simalungun.

Kesedihan yang Menggoyahkan

Mangatur Naibaho terlihat sangat kelelahan karena baru saja pulang dari Pekanbaru. Ia tampak terhuyung-huyung saat dibantu oleh keluarga untuk berjalan menuju mobil ambulans. Ia duduk di dalam mobil untuk ikut iring-iringan mobil jenazah.

Kesedihan yang dialami Mangatur Naibaho tidak hanya terlihat dari tatapan kosongnya, tetapi juga dari suaranya yang lirih saat diwawancarai. Ia mengungkapkan rasa kehilangan yang mendalam atas kematian putrinya. Keluarga dan kerabat terus berusaha memberikan dukungan moral kepada Mangatur Naibaho agar bisa melewati masa sulit ini.

Peristiwa ini menjadi peringatan bagi semua pihak untuk lebih waspada terhadap kondisi kesehatan dan lingkungan hidup, terutama bagi mahasiswa yang tinggal di kos. Semoga almarhumah diterima di sisi Tuhan dan keluarga dapat segera pulih dari duka ini.

0 Komentar