Penemuan Sumur Jobong di Peneleh, Surabaya
Sumur Jobong di kawasan Peneleh, Surabaya ditemukan secara tidak sengaja pada 8 Oktober 2018 saat proyek pembangunan drainase sedang berlangsung. Penemuan ini mengungkap bukti bahwa kawasan delta Sungai Kalimas telah menjadi pusat permukiman sejak masa lampau.
Sumur ini memiliki bentuk jobong bertumpuk dari tanah liat dengan kedalaman sekitar 2 meter. Dahulu diduga digunakan sebagai sumber air rumah tangga, ritual keagamaan, serta keperluan pertanian kecil. Penemuan ini memperkuat dugaan bahwa kawasan tersebut memiliki peradaban lama yang berkaitan dengan masa Kerajaan Majapahit.
Penemuan Sumur Jobong di Kampung Peneleh

Sumur Jobong ditemukan secara tidak sengaja oleh para pekerja proyek pembangunan box culvert di Jalan Pandean Gang I, Kelurahan Peneleh, Kecamatan Genteng, Surabaya pada 8 Oktober 2018. Lokasi penemuan berada di kawasan permukiman padat penduduk. Rumah-rumah di kampung tersebut berdiri berjejer tanpa halaman samping dan langsung berbatasan dengan jalan kampung selebar sekitar 3 hingga 4 meter.
Sumur tersebut ditemukan pada kedalaman sekitar satu meter dari permukaan tanah dengan koordinat 49 M 0651513 9164442. Saat penggalian dilakukan pada kedalaman sekitar satu meter, pekerja menemukan struktur sumur yang terbuat dari tanah liat. Sumur tersebut tersusun dari tiga lapisan jobong yang saling bertumpuk. Saat pertama kali ditemukan, kondisi sumur tertutup tanah liat serta air limbah dari rumah-rumah di sekitarnya. Sehingga, hanya bagian jobong pertama dan kedua yang terlihat, sementara bagian ketiga masih tertutup air.
Struktur sumur tersebut diketahui masih berada pada posisi aslinya atau insitu.
Sumur Bertumpuk dari Tanah Liat
Menurut informasi yang dilansir dari surabaya.kompas.com, Sumur Jobong memiliki bentuk unik berupa jobong atau cincin sumur bertumpuk yang terbuat dari tanah liat. Sumur ini memiliki kedalaman sekitar 2 meter, lebar sekitar 83 sentimeter, dan ketebalan bibir sumur sekitar 2,5 sentimeter. Penemuan tersebut bermula saat warga memperbaiki sistem drainase yang sering menyebabkan banjir di kawasan tersebut.
Ketika pengerjaan gorong-gorong diperdalam, para pekerja menemukan sumber air dengan bibir sumur berbentuk huruf C. Selain itu, di sekitar sumber air juga ditemukan berbagai benda seperti pecahan gerabah, batu bata, fragmen guci, hingga potongan tulang manusia. Awalnya, temuan tersebut hampir dihancurkan oleh para pekerja karena dianggap sebagai bagian dari struktur biasa. Namun warga kemudian melaporkan penemuan itu kepada pemerintah setempat untuk diteliti lebih lanjut.
Diduga Berasal dari Masa Majapahit
Setelah ditemukan, tim dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan melakukan penelitian awal terhadap sumur tersebut. Menurut hasil pengamatan awal, bentuk sumur tersebut memiliki kemiripan dengan sumur jobong yang banyak ditemukan di wilayah Mojokerto, pusat Kerajaan Majapahit. Karena kemiripan bentuknya, para ahli menduga bahwa Sumur Jobong di Peneleh merupakan peninggalan dari masa Kerajaan Majapahit.
Pada masa lalu, sumur jobong memiliki beberapa fungsi penting, seperti sebagai sumber air untuk kebutuhan rumah tangga serta digunakan dalam kegiatan ritual keagamaan. Selain itu, sumur ini juga dimanfaatkan untuk keperluan pertanian kecil seperti menyiram tanaman saat musim kemarau.
Kata “jobong” sendiri berasal dari istilah Jawa kuno yang dapat diartikan sebagai kamar atau ruangan. Sementara dalam konteks arkeologi, istilah “jobong” merujuk pada struktur sumur berbentuk lingkaran yang dibuat dari tanah liat atau terakota yang disusun membentuk dinding sumur.
Bukti Awal Peradaban di Delta Kalimas

Penemuan Sumur Jobong juga memperkuat dugaan bahwa kawasan Peneleh telah menjadi pusat permukiman sejak masa lampau di kawasan delta Sungai Kalimas. Dalam buku Asia Maior “Soerabaia 1900–1950”, digambarkan bahwa wilayah utara Peneleh seperti Bunguran dahulu masih berupa tanah berair dan rawa-rawa. Kondisi alam di wilayah tersebut belum sepadat kawasan di bagian selatan.
Sementara wilayah selatan delta Kalimas, termasuk Peneleh, memiliki kondisi tanah yang lebih stabil sehingga memungkinkan berkembangnya kehidupan peradaban kuno Surabaya. Karena itu, penemuan Sumur Jobong di Kampung Pandean memperkuat dugaan bahwa kawasan tersebut telah menjadi pusat aktivitas manusia jauh sebelum munculnya wilayah Surabaya pada abad ke-13. Bahkan, sebelum munculnya wilayah yang kemudian dikenal sebagai Surabaya pada tahun 1275 maupun kawasan Ampel pada 1420.
Kaitan dengan Prasasti Canggu
Selain itu, keberadaan wilayah Pandean Peneleh juga disebut dalam Prasasti Canggu yang ditulis pada 7 Juli 1358. Prasasti tersebut menyebut istilah “nahdi tira paradesa” yang menjelaskan tentang desa-desa di tepian Sungai Brantas. Dalam prasasti tersebut terdapat nama wilayah Pandaean Panile atau Pandean Peneleh. Hal ini menunjukkan bahwa wilayah tersebut telah memiliki hubungan dengan jalur perdagangan dan transportasi sungai pada masa Majapahit.
Air Sumur yang Tidak Pernah Kering
Salah satu keunikan Sumur Jobong adalah sumber airnya yang tidak pernah kering, baik pada musim hujan maupun musim kemarau. Menurut juru pelihara Sumur Jobong, Agus Santoso, air dari sumur tersebut harus rutin dikeluarkan setiap hari agar sirkulasinya tetap terjaga dan air tetap jernih. Meski warga sekitar kini telah menggunakan air dari PDAM, air sumur ini masih sering digunakan oleh pengunjung untuk mencuci muka atau membasuh tangan karena dianggap memiliki nilai spiritual.
Namun berdasarkan penelitian, air dari sumur tersebut sebenarnya tidak disarankan untuk diminum.
Kini Menjadi Situs Wisata Sejarah
Setelah dilakukan penataan dan restorasi, Sumur Jobong kini dibuka sebagai salah satu destinasi wisata sejarah di Surabaya. Para sejarawan sebelumnya sempat mengusulkan agar sumur tersebut dipindahkan ke museum. Namun akhirnya diputuskan untuk tetap mempertahankan sumur di lokasi aslinya agar nilai sejarahnya tetap terjaga.
Kini situs tersebut dirawat oleh juru pelihara dan menjadi tempat kunjungan masyarakat yang ingin mengenal lebih dekat sejarah Surabaya. Keberadaan Sumur Jobong menjadi bukti penting bahwa kawasan delta Kalimas telah menjadi tempat berkembangnya kehidupan masyarakat sejak berabad-abad lalu, sekaligus memperkaya jejak sejarah Kota Surabaya.
0 Komentar