
Bermain Dolanan Tradisional Saat Ngabuburit di Cirebon
Di tengah ramainya aktivitas masyarakat saat bulan puasa, khususnya di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, terdapat sebuah kegiatan yang menarik perhatian. Di halaman Latar Wingking, Kecamatan Sumber, puluhan anak-anak tampak asyik bermain sambil menunggu waktu berbuka puasa. Mereka tidak memilih untuk bermain gawai, melainkan mengisi waktu dengan berbagai dolanan tradisional yang mulai langka di era modern ini.
Beragam Permainan Tradisional yang Tersedia
Berbagai perlengkapan permainan tradisional tersedia di lokasi tersebut. Mulai dari lompat tali yang terbuat dari rangkaian karet gelang, bakiak panjang yang dimainkan bersama, egrang, hingga permainan ular tangga berukuran besar yang dimainkan langsung oleh anak-anak sebagai bidaknya. Setiap sore selama bulan Ramadhan, tempat ini menjadi pusat komunitas seniman Cirebon dan selalu ramai dikunjungi anak-anak.
Permainan-permainan ini tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga menjadi sarana olahraga sekaligus edukasi budaya. Menurut pengurus Latar Wingking, Ipul Sabda Pesona, kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan kembali permainan tradisional kepada anak-anak serta menjaga nilai-nilai budaya.
Kegiatan yang Menghadirkan Kebahagiaan
Meski sedang menjalankan ibadah puasa, keceriaan anak-anak tetap terlihat. Mereka tertawa dan saling menyemangati ketika memainkan berbagai permainan tersebut. Salah satu anak, Irsya (5), mengaku senang bisa mengisi waktu ngabuburit dengan bermain bersama teman-temannya dibandingkan bermain gadget.
“Alhamdulillah puasa, tapi sambil main juga buat ngabuburit. Main di sini banyak teman-teman, enggak mau main gadget. Asyik mainnya,” ujar Irsya saat diwawancarai.
Hal senada juga disampaikan Hindun (6), anak yang bermain dolanan lainnya. Ia menikmati suasana bermain bersama teman-temannya.
“Lagi main-main ngabuburit, main ular tangga sama lompat tali. Kalau egrang belum bisa. Enak main di sini, lebih asyik,” ucap Hindun.
Kolaborasi dengan Komunitas Lain
Kegiatan dolanan tradisional ini digagas oleh komunitas seniman di Latar Wingking yang ingin mengenalkan kembali permainan tradisional kepada anak-anak sekaligus menjaga nilai-nilai budaya. Menurut Ipul, kegiatan tersebut sering dikolaborasikan dengan berbagai komunitas lain yang memiliki semangat yang sama dalam menjaga tradisi.
“Ditambah kita juga menghubungkan kegiatan ini dengan komunitas-komunitas lain yang ingin bergerak bersama, tapi kita tidak meninggalkan pola tradisi dan dolanan kebudayaan,” ujarnya.
Selain permainan tradisional, di tempat ini juga kerap digelar berbagai kegiatan keagamaan untuk anak-anak. Bahkan komunitas tersebut rutin mengumpulkan anak yatim untuk diberi santunan dari para donatur.
Suasana yang Menyenangkan
Pantauan di lokasi menunjukkan bahwa anak-anak tampak antusias mengikuti setiap permainan. Mulai dari melangkah di atas matras ular tangga raksasa dengan dadu besar, melompat tali karet yang semakin tinggi, hingga mencoba berjalan kompak menggunakan bakiak panjang. Gelak tawa pun sering terdengar ketika mereka hampir terjatuh saat bermain bakiak atau gagal melompati tali karet.
Suasana sederhana di tengah pepohonan bambu itu menjadi bukti bahwa kebersamaan dan permainan tradisional masih mampu menghadirkan kebahagiaan bagi anak-anak, bahkan tanpa gadget di tangan mereka.
0 Komentar