Malam sunyi di pelabuhan, awal perjalanan mudik Lebaran

Perjalanan Pulang yang Penuh Harapan dan Kesabaran


Malam mulai merambat di Pelabuhan Ciwandan, Cilegon, Jumat lalu. Lampu-lampu dermaga berpendar kuning, menerangi wajah-wajah lelah yang tetap menyimpan senyum di pelupuk mata. Di kantong antrean, sejumlah pemudik motor duduk bersila di atas tikar seadanya, menunggu panggilan naik ke kapal. Suara mesin kapal bersahutan dengan deru motor yang sesekali menderu, menciptakan orkestra kecil perjalanan pulang.

Di antara mereka, ada Rifki Gunawan. Lelaki asal Jakarta Barat itu duduk di samping motornya yang sudah terikat rapi dengan dua tas besar. Sesekali ia mengecek ponsel, mungkin memberi kabar kepada istri di Lampung. "Saya cuti lebih awal karena lebih enak jalanan tidak macet, jadi lebih santai di jalannya," katanya sambil tersenyum. Ia memilih berangkat lebih awal—bukan hanya demi menghindari macet, tetapi juga merindukan suasana kampung yang tenang, yang selama ini hanya muncul dalam ingatan di sela hiruk-pikuk ibu kota.

Perjalanannya sempat berbelok. Seperti banyak pemudik motor lain, Rifki pertama kali meluncur ke Pelabuhan Merak. Namun di sana petugas memutarnya. "Ternyata di sana khusus buat mobil. Kalau motor dialihkan ke Pelabuhan Ciwandan, saya baru tahu tadi infonya," ujarnya. Ia tak sendiri. Beberapa pemudik motor lain yang ditemuinya di lokasi juga bernasib sama. Mereka belajar di jalan, bahwa pulang kadang butuh lebih dari sekadar niat, tapi juga informasi.

Agus Setiawan, pemudik lain yang tengah mengikat jok motornya, mengangguk setuju. "Kondisi lalu lintas dari Jakarta sampai sini alhamdulillah lancar, tidak ada kendala, cuma macet sedikit saja. Proses masuk ke pelabuhan juga cepat," katanya. Ia tampak lega. Terik matahari siang tadi tak lagi terasa, tergantikan oleh angin malam yang membawa kelembapan laut. Ia hanya perlu sedikit bersabar, lalu kapal akan membawanya pulang.

Menjaga Kelancaran di Jalan dan Pelabuhan

Di tempat terpisah, jauh dari hiruk-pikuk pelabuhan, para petugas kepolisian di berbagai daerah mulai merapalkan siasat. Arus mudik bukan hanya soal kapal dan tiket, tapi juga jalan panjang yang menghubungkan kampung halaman dengan perantauan.

Di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, Kepolisian Resor Kuningan sudah menyiapkan 417 personel untuk Operasi Ketupat Lodaya 2026. Mereka tak hanya berjaga di jalan raya, tapi juga di jalur-jalur menuju destinasi wisata. Sebab, libur Lebaran bukan hanya tentang mudik, tapi juga tentang rekreasi. Kawasan Palutungan, yang kerap menjadi tujuan wisatawan, diprediksi akan padat. Kapolres Kuningan AKBP M Ali Akbar sudah menyiapkan rencana cadangan. "Jika terjadi kemacetan, khususnya di wilayah pariwisata seperti Palutungan, kami bisa menerapkan sistem one way," katanya.

Di Cianjur, kebijakan lain diambil. Truk angkutan barang bersumbu dua atau lebih dilarang melintas di jalur utama mudik mulai H-7 hingga H+7 Lebaran. Hanya truk bermuatan pangan dan bahan bakar minyak yang diizinkan—itu pun dengan pengawalan petugas. Kapolres Cianjur AKBP Alexander Yurikho Hadi menegaskan, pelanggar akan diminta putar balik. "Kami meminta pemilik armada dapat mematuhi larangan tersebut," ujarnya.


Di Terminal Cipanas, angkutan kota juga akan berhenti beroperasi selama empat hari. Sebagai gantinya, para sopir mendapat kompensasi. Kebijakan ini diambil agar arus kendaraan pribadi dan pemudik tetap lancar, tanpa terganggu oleh angkutan yang berhenti di sembarang tempat.

Kisah-kisah di Antara Roda dan Jalan

Malam semakin larut di Pelabuhan Ciwandan. Rifki dan Agus akhirnya mendapat giliran naik ke kapal. Motor mereka didorong perlahan ke lambung kapal, menyatu dengan puluhan kendaraan roda dua lain. Di dalam kapal, mereka duduk berdesakan, namun tak ada keluh. Ada rasa syukur karena perjalanan darat telah terlewati.

Di luar, petugas pelabuhan sibuk mengatur antrean. Lampu-lampu kecil dari ponsel pemudik menyala, mengirim kabar ke keluarga bahwa mereka sudah di atas kapal. "Sebentar lagi sampai, Doakan lancar," tulis salah satu dari mereka di layar ponsel.

Perjalanan pulang memang selalu tentang penantian. Tentang memilih waktu yang tepat, jalur yang benar, dan kesabaran di tengah keramaian. Di Pelabuhan Ciwandan malam itu, para pemudik motor belajar bahwa pulang tak selalu harus tergesa. Kadang, jalan sunyi dan langit malam adalah teman terbaik sebelum akhirnya tiba di pelukan keluarga.

Dan di ujung perjalanan, di Lampung atau kampung-kampung lain di Sumatra, lampu-lampu rumah telah dinyalakan. Menanti kedatangan mereka yang pulang, membawa oleh-oleh dan cerita.

0 Komentar