Masjid Sultan Hadlirin Mantingan Jepara, Warisan Ratu Kalinyamat untuk Suami Tercinta

Masjid Sultan Hadlirin Mantingan Jepara, Warisan Ratu Kalinyamat untuk Suami Tercinta

Sejarah dan Keunikan Masjid Astana Sultan Hadlirin di Jepara

Masjid Astana Sultan Hadlirin, yang terletak di Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, merupakan salah satu bangunan bersejarah yang masih bertahan hingga saat ini. Diperkirakan memiliki usia hampir lima abad, masjid ini menjadi bukti peradaban yang kaya akan nilai budaya dan spiritual.

Nama dan Asal Usul

Masjid ini dikenal dengan nama Masjid Astana Sultan Hadlirin atau disebut juga sebagai Masjid Mantingan oleh masyarakat sekitar. Nama tersebut berasal dari Sultan Hadlirin, yang merupakan suami dari Ratu Kalinyamat. Menurut cerita, masjid ini dibangun sebagai hadiah dari Ratu Kalinyamat kepada mendiang suaminya, Sultan Hadlirin atau Raden Toyib, yang merupakan putra dari Aceh. Hal ini menjadikan nama Sultan Hadlirin sebagai identitas utama dari masjid ini.

Lokasi dan Struktur Bangunan

Masjid Astana Sultan Hadlirin terletak dalam sebuah kompleks yang dikelilingi oleh pagar tembok dari batu bata khas peninggalan zaman Hindu-Budha. Di dalam kompleks tersebut terdapat beberapa makam penting, seperti Makam Ratu Kalinyamat, Sultan Hadlirin, anak angkatnya, serta tokoh-tokoh lain pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat.

Letak masjid yang lebih tinggi dari jalan raya menunjukkan bahwa tempat ini dianggap sebagai singgasana atau pusat kekuasaan. Dari halaman utama, bangunan masjid tampak lebih tinggi, dan untuk memasuki bagian dalam, pengunjung harus menaiki puluhan anak tangga. Terdapat tiga pintu utama yang terbuat dari kayu jati sebagai akses masuk ke dalam masjid.

Di dalam masjid, terdapat empat tiang utama yang terbuat dari kayu jati asli sejak awal pembangunan. Selain itu, mimbar masjid juga masih asli dari era pembangunan pertama, meskipun tempat tongkatnya telah diganti.

Pembangunan dan Pengembangan

Pengembangan masjid dilakukan secara bertahap tanpa mengubah struktur utama bangunan. Beberapa penambahan seperti pemasangan plafon, pembangunan serambi, pemasangan keramik, dan pembangunan bangunan penunjang di sisi kanan dilakukan agar masjid tetap dapat digunakan sebagai tempat ibadah dan kajian Islam.

Menurut Ketua Yayasan Masjid dan Makam Sultan Hadlirin Mantingan Jepara, Dr Achmat Slamet (68), konon masjid ini dibangun dua kali. Tiga tokoh utama yang terlibat dalam pembangunan pertama adalah Ratu Kalinyamat, Sultan Hadlirin, dan Tjie Hwie Gwan atau Pangeran Sungging Badar Duwung, yang merupakan arsitek dari masjid tersebut.

Bahan Material dan Proses Pembangunan

Mayoritas material yang digunakan dalam pembangunan masjid berasal dari China. Hal ini dikaitkan dengan pertemuan Sultan Hadlirin dengan Tjie Hwie Gwan, yang kemudian menjadi ayah angkatnya. Batu ukir bermotif relief dan kayu jati digunakan sebagai bahan utama dalam konstruksi masjid.

Menurut cerita, setelah masjid pertama berdiri, banyak laporan menyebutkan bahwa bangunan tersebut dibawa ke Sendangduwur, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan. Setelahnya, Ratu Kalinyamat dan Pangeran Sungging Badar Duwung membangun kembali masjid di Mantingan dengan konsep yang serupa. Bahkan, beberapa bahan utama pendirian masjid juga didatangkan kembali dari China.

Penutup

Menurut Achmat Slamet, ada dua kisah mengenai pembangunan masjid ini. Bangunan pertama dibawa ke Sendangduwur, sedangkan bangunan kedua dibangun kembali di Mantingan. Ia juga menyebutkan bahwa kondisi bangunan masjid di Sendangduwur saat ini tidak terawat. Dengan demikian, Masjid Astana Sultan Hadlirin kini menjadi warisan budaya yang sangat berharga dan menjadi cagar budaya nasional.


0 Komentar