Sejarah dan Keunikan Candi Ngetos di Kabupaten Nganjuk
Candi Ngetos merupakan salah satu situs peninggalan Kerajaan Majapahit yang berada di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Candi ini memiliki peran penting dalam sejarah kejayaan Majapahit dan terkait dengan sosok Raja Hayam Wuruk. Diperkirakan dibangun pada abad ke-15, candi ini menjadi bukti kuat dari perkembangan budaya dan agama pada masa itu.
Candi bercorak Hindu ini memiliki arsitektur khas Majapahit yang dibuat dari bata merah. Meski sebagian bangunan telah rusak, candi ini masih digunakan sebagai tempat peribadatan umat Hindu dan menjadi destinasi wisata sejarah yang menarik untuk dikunjungi.
Lokasi dan Latar Belakang Pembangunan

Candi Ngetos terletak di Desa Ngetos, Kecamatan Ngetos, sekitar 17 kilometer di selatan Kota Nganjuk. Lokasinya berada di tepi jalan raya yang menghubungkan wilayah Kuncir dan Ngetos, sehingga relatif mudah dijangkau oleh pengunjung.
Menurut berbagai kajian sejarah, candi ini diperkirakan dibangun pada masa Kerajaan Majapahit. Kawasan ini diyakini menjadi tempat yang berkaitan dengan pemakaman atau pendharmaan Raja Hayam Wuruk. Raja Hayam Wuruk adalah raja keempat Majapahit yang memerintah sejak tahun 1350 hingga 1389 Masehi. Pada masa pemerintahannya, Majapahit mencapai puncak kejayaan dengan dukungan Mahapatih Gajah Mada.
Pegiat sejarah dari Komunitas Pencinta Sejarah Nganjuk, Sukadi, menyebut bahwa sebagian abu kremasi Hayam Wuruk didharmakan di kawasan Paramasakapura atau yang dikenal sebagai Candi Ngetos. Namun, pendapat tersebut tidak sepenuhnya disepakati oleh semua pihak.
Juru pelihara Candi Ngetos, Aris Trio Effendi, mengatakan bahwa candi tersebut lebih tepat disebut sebagai candi pendharmaan atau tempat penghormatan terhadap Hayam Wuruk. Menurutnya, belum ada bukti tertulis yang menyatakan bahwa abu kremasi raja Majapahit tersebut benar-benar disimpan di dalam candi.
Arsitektur dan Bentuk Bangunan
Secara arsitektur, Candi Ngetos memiliki ciri khas bangunan era Majapahit karena dibuat dari bata merah. Material tersebut membuat bangunan lebih rentan mengalami kerusakan dibandingkan candi yang menggunakan batu andesit.
Diketahui, bangunan utama candi saat ini hanya menyisakan bagian induk. Sedangkan bagian struktur seperti relief dan ornamen telah mengalami kerusakan, sehingga bentuk aslinya sulit diketahui secara pasti.
Saat ini, ukuran bangunan candi yang masih dapat diketahui antara lain: * Panjang candi sekitar 9,1 meter * Tinggi keseluruhan sekitar 10 meter * Tinggi badan candi sekitar 5,43 meter * Saubasemen setinggi 3,25 meter * Lebar pintu masuk sekitar 0,65 meter * Ruang dalam sekitar 2,4 meter
Selain itu, atap candi diduga dahulu terbuat dari kayu, sehingga tidak lagi tersisa karena telah lapuk dimakan usia. Candi ini memiliki bilik di tengah bangunan dengan tangga di sisi barat, sehingga orientasi candi menghadap ke arah barat.
Para ahli juga memperkirakan bahwa kompleks candi dahulu dikelilingi tembok berbentuk lingkaran dan berada di area bertingkat di lereng Gunung Wilis.
Relief dan Ornamen Candi
Candi Ngetos dulunya memiliki empat relief utama, namun kini hanya satu yang masih tersisa. Tiga relief lainnya telah rusak seiring berjalannya waktu.
Diketahui, pada bagian alas candi dahulu terdapat pigura-pigura yang dihiasi ornamen berbentuk belah ketupat dan motif daun. Di sisi kanan dan kiri bangunan terdapat relung kecil yang dihiasi ornamen spiral menyerupai makara.
Selain itu, bagian tubuh candi memiliki beberapa relung kosong dengan tinggi sekitar dua meter, yang dahulu kemungkinan digunakan untuk menempatkan arca. Salah satu ornamen yang paling mencolok adalah hiasan kala berukuran besar yang berada di bagian atas relung.
Wajah kala digambarkan menyeramkan dan diyakini berfungsi sebagai simbol penolak bahaya. Motif kala seperti ini umum ditemukan pada bangunan candi Hindu di Jawa dan Bali, yang pengaruhnya berasal dari budaya India.
Arca dan Corak Keagamaan

Berdasarkan temuan arkeologis, Candi Ngetos memiliki corak Siwa–Wisnu. Hal ini diketahui dari ditemukannya arca Siwa dan arca Wisnu di kawasan candi.
Para ahli menduga bahwa arca Siwa dalam candi ini menjadi arca utama, sedangkan arca Wisnu berperan sebagai arca pendamping. Sebagaimana dilansir dari Pusaka Jawatimuran, arca Wisnu yang pernah ditemukan di lokasi ini kemudian disimpan di Kediri. Sementara arca lainnya sudah tidak diketahui keberadaannya.
Saat ini tidak ada lagi arca yang tersisa di dalam bangunan candi. Namun masyarakat setempat pernah menyebut adanya benda-benda kuningan seperti wadah dan perlengkapan ritual yang dahulu berada di dalam candi.
Cerita Rakyat dan Legenda Candi Ngetos
Selain catatan sejarah, Candi Ngetos juga memiliki kisah legenda yang berkembang di masyarakat. Konon, pembangunan candi ini merupakan prakarsa Raja Hayam Wuruk yang ingin menjadikan kawasan tersebut sebagai tempat penyimpanan abu jenazahnya setelah wafat.
Lokasi Ngetos dipilih karena berada di kaki Gunung Wilis yang dianggap menyerupai Gunung Mahameru dalam kosmologi Hindu. Pembangunan candi disebut diserahkan kepada pamannya, Raden Condromowo atau Raden Ngabei Selopurwoto yang memerintah di wilayah Ngatas Angin.
Cerita rakyat juga menyebut bahwa dahulu terdapat dua candi kembar di kawasan tersebut yang disebut Candi Tajum, dengan ukuran berbeda antara satu dengan lainnya. Namun, saat ini hanya satu bangunan yang tersisa.
Masih Digunakan untuk Peribadatan
Meski mayoritas masyarakat di sekitar Candi Ngetos kini beragama Islam, situs bersejarah ini masih digunakan sebagai tempat peribadatan umat Hindu. Umat Hindu dari berbagai daerah sering datang untuk bersembahyang menjelang hari raya keagamaan seperti Nyepi dan Kuningan.
Hal ini menunjukkan bahwa selain sebagai situs sejarah, Candi Ngetos juga masih memiliki fungsi spiritual bagi masyarakat.
Situs Bersejarah di Lereng Gunung Wilis
Keberadaan Candi Ngetos menjadi bukti penting perkembangan budaya dan agama pada masa Kerajaan Majapahit. Meski sebagian bangunannya telah rusak, situs ini tetap menjadi salah satu peninggalan bersejarah yang menggambarkan kejayaan Majapahit sekaligus penghormatan terhadap Raja Hayam Wuruk.
Candi Ngetos kini menjadi salah satu destinasi sejarah di Kabupaten Nganjuk yang menarik untuk dikunjungi, sekaligus sarana mempelajari jejak peradaban masa lampau di Jawa Timur.
0 Komentar