Sejarah dan Keunikan Candi Tegowangi
Candi Tegowangi yang terletak di Desa Tegowangi, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, merupakan salah satu peninggalan bersejarah dari Kerajaan Majapahit. Diperkirakan dibangun sekitar tahun 1400 Masehi, candi ini memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi. Selain itu, Candi Tegowangi juga menjadi tempat pendharmaan bagi Bhre Matahun, tokoh penting dalam kerajaan yang masih memiliki hubungan keluarga dengan Raja Hayam Wuruk.
Salah satu daya tarik utama dari Candi Tegowangi adalah relief cerita Sudamala yang mengisahkan proses pensucian Dewi Durga menjadi Dewi Uma. Cerita ini mencerminkan kepercayaan masyarakat Hindu pada masa itu. Relief tersebut terpahat di sekeliling tubuh candi dan terdiri dari 14 panel yang tersebar di sisi utara, barat, dan selatan bangunan.
Struktur Bangunan dan Relief Cerita Sudamala

Secara umum, Candi Tegowangi memiliki bentuk bangunan berdenah bujur sangkar dengan ukuran sekitar 11,2 meter x 11,2 meter dan tinggi sekitar 4,35 meter. Bangunan candi menghadap ke arah barat. Pondasi candi terbuat dari bata, sedangkan bagian kaki dan sebagian tubuh bangunan tersusun dari batu andesit. Struktur candi terdiri dari kaki candi dua tingkat dengan ornamen hias yang cukup detail.
Pada setiap sisi kaki candi terdapat panel tegak yang dihiasi figur raksasa atau gana yang digambarkan dalam posisi jongkok dengan kedua tangan terangkat, seolah-olah menopang bangunan candi. Relief cerita Sudamala yang terpahat di sekeliling tubuh candi menjadi daya tarik utama dari Candi Tegowangi. Cerita Sudamala mengisahkan tentang proses pensucian Dewi Durga yang awalnya digambarkan dalam wujud buruk dan jahat, kemudian kembali menjadi Dewi Uma yang suci setelah diruwat oleh Sadewa, salah satu tokoh Pandawa.
Fungsi Candi Tegowangi sebagai Tempat Pendharmaan
Selain memiliki nilai arsitektur yang khas, Candi Tegowangi juga memiliki fungsi penting dalam kehidupan keagamaan masyarakat pada masa Majapahit. Menurut penjelasan yang dikutip dari kompas.com, Mpu Prapanca dalam Kitab Negarakertagama menyebutkan bahwa candi ini difungsikan sebagai tempat pendharmaan Raja Watsari, yang merupakan nama lain dari Bhre Matahun. Pendharmaan merupakan tradisi dalam kebudayaan Hindu-Buddha di Nusantara untuk menghormati tokoh kerajaan yang telah meninggal dunia.
Biasanya tokoh tersebut dipuja melalui pembangunan candi sebagai tempat pemujaan. Di dalam bilik candi ditemukan sebuah yoni dengan cerat berbentuk naga. Keberadaan yoni ini menunjukkan bahwa Candi Tegowangi memiliki latar belakang keagamaan Hindu. Selain itu, di sekitar halaman candi juga ditemukan beberapa arca, seperti arca Parwati Ardhanari dan arca Garuda berbadan manusia. Temuan tersebut semakin memperkuat bahwa candi ini berkaitan dengan tradisi keagamaan Hindu pada masa Majapahit.
Destinasi Wisata Sejarah yang Ramai Dikunjungi
Saat ini, Candi Tegowangi tidak hanya menjadi situs sejarah, tetapi juga berkembang sebagai destinasi wisata edukatif yang menarik di Kabupaten Kediri. Kawasan candi kini semakin tertata dan banyak dikunjungi wisatawan setelah mengalami perbaikan pengelolaan dalam beberapa tahun terakhir. Pengunjung dapat datang setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 17.00 WIB tanpa dikenakan biaya tiket masuk.
Hal ini menjadikan Candi Tegowangi sebagai tempat wisata sejarah yang terjangkau bagi masyarakat. Kawasan candi juga telah dilengkapi beberapa fasilitas, seperti pagar pembatas, toilet, mushala, serta gazebo untuk beristirahat. Area di sekitar candi yang asri dengan pepohonan membuat pengunjung merasa nyaman saat berada di lokasi.
Tidak hanya menjadi tempat wisata, Candi Tegowangi juga sering digunakan sebagai lokasi kegiatan seni dan budaya, seperti festival tari dan pertunjukan seni tradisional. Bahkan, beberapa pengunjung dari luar daerah datang untuk berdoa maupun belajar sejarah di kawasan tersebut. Dengan nilai sejarah dan budaya yang dimilikinya, Candi Tegowangi menjadi salah satu situs penting yang mencerminkan kejayaan Kerajaan Majapahit sekaligus warisan budaya yang perlu dijaga dan dilestarikan.
0 Komentar