:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4469843/original/079454100_1686970620-Sekolah_Jadi_Pengungsian__Siswa_Filipina_Belajar_di_Lorong-Bawah_Pohon-AP__5_.jpg)
Kondisi Anak-anak di Dusun Toro Jaya yang Belajar di Bawah Pohon Sawit
Di sebuah dusun kecil di Kabupaten Pelalawan, Riau, terjadi situasi yang memilukan. Anak-anak usia kelas 1 Sekolah Dasar (SD) harus belajar di bawah pohon sawit, hanya ditemani terpal sebagai alas dan daun pohon sebagai peneduh. Video yang menunjukkan kondisi tersebut viral di media sosial, mengundang empati dari berbagai kalangan.
Latar Belakang Masalah
Anak-anak yang belajar di bawah pohon sawit adalah warga dari Dusun Toro Jaya, Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui. Mereka tinggal di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), yang oleh pemerintah dinyatakan sebagai kawasan hutan. Akibatnya, lahan tempat tinggal mereka disita, termasuk sekolah SD 20 yang sebelumnya digunakan untuk pendidikan anak-anak.
Sebelum penyitaan, SD 20 merupakan kelas jauh dari SD Negeri 003 Desa Lubuk Kembang Bunga. Namun, setelah lahan sekolah tersebut dinyatakan masuk dalam kawasan TNTN, sekolah itu tidak lagi dapat menerima siswa baru. Sementara itu, siswa kelas dua hingga enam masih diperbolehkan bersekolah, dengan total 455 siswa dalam 10 rombongan belajar.
Kondisi Belajar yang Menyedihkan
Dalam video yang beredar, terlihat anak-anak kelas 1 duduk melingkar di atas terpal, mengenakan seragam merah putih. Mereka belajar di bawah pohon sawit, sebagian hanya dilindungi pelepah daun dari panas matahari. Seorang guru perempuan tampak mengajar di tengah-tengah mereka. Beberapa anak menggunakan topi sekolah untuk mengipas tubuh karena kepanasan. Di belakang mereka, orangtua juga duduk di tanah.
Menurut Abdul Aziz, juru bicara warga TNTN, jumlah siswa baru yang masuk sekolah pada hari pertama mencapai 58 orang. Mereka terpaksa belajar di luar ruang kelas karena sekolah induk berada di lokasi yang jauh. Jarak antara Dusun Toro Jaya ke sekolah induk sekitar dua jam perjalanan, membuat sulit bagi orang tua untuk mengantar anak-anaknya.
Inisiatif Warga untuk Memperbaiki Kondisi
Akibat kesulitan tersebut, warga berinisiatif membangun tenda sederhana dari terpal plastik di luar kawasan TNTN agar anak-anak tetap bisa belajar. Mereka juga meminta bantuan seorang guru untuk mengajar secara sukarela. Anak-anak ini sangat ingin sekolah, meskipun dalam kondisi yang tidak ideal.
Aziz menyebutkan bahwa banyak ibu-ibu menangis melihat anak-anak mereka belajar di tanah. Mereka merasa seperti hidup dalam zona perang tanpa ampun. "Tidak ada toleransi, tidak ada solusi. Masyarakat disuruh mencari solusi sendiri," katanya.
Tanggapan dari Pihak Terkait
Pada hari pertama sekolah, anak-anak diberikan pemahaman tentang situasi yang mereka alami. Mereka bertanya mengapa harus belajar di kebun sawit. Guru menjelaskan kepada mereka, dan akhirnya banyak yang menangis, baik anak-anak maupun ibunya.
Aziz menilai pemerintah seharusnya memberikan solusi konkret agar pendidikan anak-anak tidak terdampak. Ia menganggap ini seperti hukuman yang diwariskan turun-temurun. "Hukuman kepada orangtuanya itu, sawit yang tak laku lagi, anaknya harus menderita karena sekolahnya seperti itu," ujarnya.
Upaya Perbaikan Kondisi
Untuk hari kedua, warga berusaha memindahkan kegiatan belajar ke sebuah musala yang berada di luar kawasan TNTN. "Yang penting tidak dalam kawasan TNTN," tambah Aziz.
Beberapa waktu lalu, Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) menyita lahan yang digarap warga di TNTN, termasuk di Dusun Toro Jaya. Pemerintah meminta warga melakukan relokasi mandiri, namun banyak yang menolak dengan alasan lahan itu dibeli secara sah. Hingga kini, ribuan warga masih bertahan di lokasi tersebut.
0 Komentar