
Semangat Kebangsaan yang Progresif dalam Membangun Indonesia
Wakil Ketua MPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono atau yang akrab disapa Ibas, menekankan pentingnya menjadikan semangat kebangsaan sebagai kekuatan yang hidup dan relevan dengan zaman. Menurutnya, ide kebangsaan harus diwujudkan dalam bentuk kebijakan publik yang berdampak langsung kepada masyarakat. Hal ini harus didasari oleh landasan moral, ilmu pengetahuan, serta kemajuan teknologi.
Dalam diskusi yang dihadiri para akademisi dan mahasiswa, Ibas menyampaikan bahwa dunia saat ini telah mengalami perubahan signifikan. Peta tantangan pun terus bergeser. Beberapa isu utama yang muncul antara lain krisis energi, pangan, iklim, disrupsi teknologi, kecerdasan buatan, polarisasi sosial, serta krisis kepercayaan. Ibas juga menyoroti bagaimana disinformasi dan ketidakpercayaan terjadi antara negara, rakyat, dan pemimpin.
“Saya tidak bicara atas nama wakil rakyat saja atau sebagai politisi, tapi dari sisi dunia. Hari ini kita melihat bagaimana disinformasi dan distrust terjadi antara negara, rakyat, dan pemimpin,” ujarnya dalam diskusi publik bertemakan “Kebangsaan Progresif: Membangun Indonesia Melalui Gagasan dalam Menghadapi Tantangan Global” di Institute for Advancement of Science Technology & Humanity (IASTH) Universitas Indonesia, Kampus Salemba, Jakarta, Jumat (31/10/2025).
Ibas, yang juga merupakan Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, memberikan kuliah umum bersama Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan (SPPB) Universitas Indonesia. Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa dalam teori complex interdependence, dunia kini saling bergantung secara ekonomi, teknologi, dan informasi. Kekuatan tidak lagi hanya dibutuhkan oleh pemerintah saja, namun juga masyarakat luas.
Dia berharap pemerintah semakin kuat dan berdaya untuk memastikan negara kesatuan dan demokrasi Indonesia dapat benar-benar dijaga. Selain itu, Ibas menegaskan bahwa Indonesia harus terus terlibat dalam upaya perdamaian dunia, tidak hanya bicara soal ketahanan nasional, tetapi juga kesiapan aktif di dunia internasional.
Dalam paparannya yang bertajuk “Dari Ide ke Aksi: Refleksi Kebangsaan, Kepemimpinan, dan Tantangan Global”, Ibas mengingatkan bahwa peran tersebut harus dibarengi dengan kehadiran ilmu, inovasi, dan data. Ia mengutip sosiolog Anthony Giddens:
“Globalization does not erase nations, it challenges them to redefine themselves”
— globalisasi tidak menghapuskan negara, tetapi menantang setiap bangsa untuk mendefinisikan dirinya kembali.
Ibas menekankan bahwa nasionalisme lama yang bersifat defensif dan berakar pada sejarah kini perlu bergeser menjadi kebangsaan progresif. Kebangsaan progresif harus terbuka, reflektif, dan ilmiah. Nasionalisme kini harus menatap dunia, bukan menolak dunia. “Kebangsaan tidak hanya dibicarakan, tapi dikerjakan,” tegas Ibas.
Menurut Dewan Penasihat KADIN, hal ini dapat diwujudkan melalui pendidikan karakter digital, diplomasi kebudayaan, dan riset strategis berbasis IPTEK. Ibas juga mengutip pesan Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono: “Kita tidak bisa mengubah arah angin, tapi kita bisa menyesuaikan layar.”
Ibas juga menyoroti pentingnya kepemimpinan yang visioner di tengah dinamika global. “Dunia kini menuntut strategic foresight, pemimpin yang progresif, visioner, kolaboratif, dan adaptif,” katanya. Dia menegaskan harapan agar Indonesia menjadi subjek, bukan objek dunia. Tantangannya adalah bagaimana Indonesia dapat berdaulat digital, melakukan transisi energi, dan menjaga stabilitas maritim.
Solusi yang ditawarkan Ibas meliputi kolaborasi diplomatik, inovasi sumber daya manusia dan riset, serta penguatan ketahanan sosial-ekonomi. “Pemimpin tidak hanya reaktif, tapi antisipatif. Harus inspiratif, bukan instruktif,” lanjut anggota DPR RI dari Dapil Jawa Timur VII tersebut.
Dalam paparannya, Ibas menjelaskan konsep 'Tiga Langkah Indonesia Progresif', yakni Kesadaran Baru, Dorong Inovasi, dan Etika Publik. Menurutnya, langkah ini perlu dilandasi oleh cinta tanah air, berpikir kritis dan solutif, menjadikan IPTEK sebagai instrumen kemandirian, serta membangun kepemimpinan berbasis integritas untuk mencapai cita-cita Indonesia Emas 2045.
Menutup kegiatan tersebut, Ibas menyampaikan refleksi penting yang ditujukan kepada Universitas Indonesia agar dapat menjadi pusat pemikiran strategis dan solusi kebangsaan. Pertama, bagaimana konsep kebangsaan progresif dapat diintegrasikan dalam diplomasi luar negeri Indonesia? Kedua, bagaimana kita menciptakan strategic leaders dalam ranah diplomasi internasional? Dan ketiga, bagaimana kampus dapat menjadi ekosistem digital, moral, dan intelektual dalam politik nasional?
Ibas berharap Universitas Indonesia dapat memberikan jawaban konkret atas tiga refleksi tersebut melalui penelitian, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat.
0 Komentar