
Perjalanan dari Denpasar ke Padangbai dengan Transportasi Umum
Taksi online membawa kami sampai di dalam terminal Ubung Denpasar, sekitar pukul delapan pagi di pertengahan Oktober yang terasa panas. Meskipun ramai, suasana tidak terlalu semerawut. Kami langsung menuju pojokan terminal di sisi timur. Di tiang ujung bangunan tertulis "PADANGBAI", tujuan kami.
"Mataram, Pak", segera saja seseorang menghampiri kami menawarkan kendaraan, ketika kami turun dari taksi online tadi.
"Padangbai saja", jawab saya singkat, sambil terus menggeret koper dan menggendong tas-tas kami ke arah tempat duduk umum.
"Ini sama ibu ini, dia juga mau ke Mataram, 27 saja", sambut orang tadi untuk meyakinkan saya sambil menunjuk seorang ibu berhijab yang telah duduk di kursi tunggu.
Saya dan isteri pura-pura tidak peduli. Kami mencari tempat duduk dulu yang nyaman di barisan kursi tunggu. Setelah barang-barang kami tertempat dengan baik, saya mulai berdiri lagi.
Di sebelah selatan, tampak bus-bus merah Trans Metro Dewata terparkir. Tidak lebih dari 10 orang tampak duduk di sekitar kami. Entah mereka calon penumpang juga untuk jurusan yang sama dengan kami, atau jurusan lain.
"Mobilnya yang mana, Pak", tanya saya ke seseorang yang bertanya ke saya awal tadi. Tidak ada bus di pojokan terminal tempat kami menunggu ini.
"Itu", jawab sang pria sambil menunjuk ke sebuah minibus kecil. "Kalau banyak penumpang, nanti kita pakai elf yang di sebelahnya", katanya sambil menunjuk ke sebuah mobil Isuzu Elf pendek berwarna putih.
"Tunggu dulu Pak, kami masih menunggu penumpang bus dari Jawa", terang pria tadi. "Ferry jam 11, kita berangkat jam setengah sepuluh", tambahnya.
Masih setengah sembilan. Sembari menunggu, isteri saya keluar terminal. Sepuluh menit kemudian dia kembali sambil membawa kantong plastik berisi beberapa gorengan dan dua bungkus nasi kucing yang dibungkus daun pisang.
"Nasi kucingnya nanti aja kita makan di feri, untuk makan siang", kata saya.
"Iya, cuma lima ribuan", jelas istri lebih lanjut.
Jalur Selatan Tepi Laut
Sekitar pukul sembilan, kami diminta untuk memasukkan koper dalam bagasi minibus elf. Ternyata bus dari Jawa yang akan membawa calon penumpang sudah tiba. Tiga wanita dan satu pria duduk di emperan terminal. Mungkin akan segera berangkat, pikir kami senang. Ternyata belum.
Pojokan terminal tempat kami duduk-duduk tadi mulai sepi. Tampaknya kebanyakan orang yang duduk tadi telah pergi dengan jurusan-jurusan yang berbeda dengan kami. Kami masih belum berangkat. Tampaknya sang sopir masih memanfaatkan kesempatan untuk menunggu calon penumpang lain.
Sekitar setengah sepuluh akhirnya kami diminta masuk mobil. Delapan orang penumpang termasuk kami. Mobil berangkat. Tapi sang sopir selalu sibuk menelpon seseorang semenjak mobil berjalan.
Memang hanya sedikit informasi di internet mengenai transportasi umum dari Denpasar ke Padangbai. Umumnya yang tertera tersedia adalah bus dari Sanur ke Padangbai. Jadi jika dari Denpasar, disarankan ke Sanur terlebih dahulu, baru lanjut ke Padangbai. Walau dengan minibus elf, tak apalah, kami akhirnya berangkat juga.
Minibus elf ini sebenarnya tidak buruk. Walau terlihat agak tua, namun masih layak untuk penumpang. Jok kursi masih empuk dan AC masih berfungsi. Hanya saja memang tempat duduk terlalu rapat. Kalau untuk orang Indonesia masih memungkinkan, tapi kalau orang asing dengan postur tubuh lebih besar, jelas ini menyiksa. Mudah-mudahan ke depan ada bus atau transportasi umum yang lebih baik dari Denpasar ke Padangbai di Bali ini.
Drama Tiket Feri
Sekitar pukul 11 kurang, akhirnya kami tiba di Pelabuhan Padangbai. Kami turun dan membayar 80 ribu rupiah per orang. Setelah berterimakasih ke sang sopir, kami mulai berjalan memasuki area pelabuhan.
"Antar bagasi, Pak", langsung saja seseorang menawarkan jasa porter ke kami.
"Oiya, koper ini saja. Antar sampai dalam kapal ya", sahut saya. Kami tawar menawar harga, sepakat 30 ribu sebagai harga yang wajar.
"Kalau belum ada tiket, bisa saya bantu nanti dengan petugasnya", kata sang porter selanjutnya.
"Tidak Pak, kami sudah pesan online", kata isteri. Kami sebenarnya sudah mulai pesan tiket feri ini online sejak semalam melalui aplikasi feryzy, hasil pembelajaran dari menyeberang di Ketapang beberapa hari lalu. Namun ternyata, proses regristrasi di aplikasi ferryzy kami terhambat, entah kenapa. Kami lupa juga menyelesaikan proses ini waktu di mobil tadi.
Kami berhenti sebentar di depan pintu masuk ruang tunggu. Kami otak atik aplikasi, kenapa tidak mau verifikasi proses registrasi kami. Karena lama, kami masuk ke ruang tunggu. Isteri saya menuju konter boarding, minta bantuan. Namun petugas konter juga tidak bisa membantu. Sang porter kembali menawarkan bantuan mengurus pembelian langsung. Kami tetap tolak halus.
Lima belas menit lebih kami berkutat di aplikasi ini. Saya menuju konter boarding menanyakan apakah feri sudah mau berangkat atau belum. Untunglah dia katakan belum. Jika terlambat, feri berikutnya sekitar jam setengah dua, ujarnya. Beberapa calon penumpang lain, lokal dan asing, berseliweran boarding.
Setelah lama bola balik mencoba, termasuk restart ponsel, akhirnya proses registrasi kami berhasil juga. Ternyata kami lupa mengklik tautan verifikasi yang terkirim via email. Barcode tiket keluar, kemudian kami segera boarding. Masing-masing 65.300 rupiah untuk penumpang reguler dewasa.
Biru Toska Padangbai
Seperti biasa, jarak ruang tunggu ke feri cukup jauh. Untunglah ada porter. Dia gotong koper kami karena di beberapa tempat agak susah untuk menggeretnya. Kami sepakat koper besar diletakkan di lantai bawah kapal, dekat parkir motor dan tangga. Mudah diawasi juga, pikir saya.
Pukul setengah 12. Kami naik ke dek penumpang di atas. Selasar luar sudah penuh. Area ini paling enak, banyak angin dan bisa melihat pemandangan ke laut saat perjalanan. Di bagian utama tengah dek, tempat duduk penumpang hampir penuh. Ada ruangan khusus di depannya tertulis VIP. Kami masuk ke sana, berpendingan AC. Tidak terlalu penuh. Akhirnya kami memutuskan duduk di ruangan ini. Selain tempat duduk yang empuk, di bagian depan ruangan ini, terdapat ruang tanpa kursi dan disewakan kasur kapal.
Setelah tas-tas kami atur baik, kami keluar ruang duduk, berniat melihat pelabuhan saat feri berangkat. Hampir pukul 12, feri akhirnya bertolak. Teluk Padangbai tampak terang benderang kepanasan. Sebagian teluk berpasir putih, sebagian berbatu karang dengan formasi hutan pantai tipis di atasnya. Air biru toska mendominasi teluk. Indah dilihat dari kejauhan.
Berdasarkan informasi di Wikipedia, Padangbai merupakan nama desa di Kabupaten Karangasem Bali. Dahulu bernama Desa Padang, kemudian dalam catatan-catatan Belanda disebut sebagai Padang Baai atau Teluk Padang. Setelah kemerdekaan, nama Desa Padang diubah menjadi Teluk Padang. Namun, para wisatawan dan penulis-penulis buku traveling asing, menyebutnya sebagai Padang Bay. Secara administratif, nama Teluk Padang masih digunakan sampai 1992. Kemudian setelah resmi menjadi desa yang berdiri sendiri, nama ini diganti menjadi Padangbai.
Beberapa speedboat tampak berjajar. Sebuah speedboat besar terlihat riuh dimasuki penumpang. Beberapa rumah atau hotel juga tampak di pantai dan atas bukit batu.
Favorit Wisatawan Backpacker
Tengah hari, rasa panas menerpa kami yang hanya berdiri berpegang pagar kapal. Seperempat penumpang sepertinya warga asing, para wisatawan. Dari yang sendirian, berpasangan, sampai keluarga yang membawa anak-anak kecil maupun remaja. Mungkin mereka mencoba perjalanan lain daripada naik pesawat dari Bali, atau memang mau paket hemat.
Para bule ini juga kebanyakan terlihat cuek. Tidak ada yang menampakkan wajah kesal atau kecewa dengan kondisi kapal, entah di dalam hatinya. Melihat keriuhan wisatawan asing di feri ini, sepertinya feri menjadi salah satu sarana transportasi favorit para wisatawan asing dari Bali menuju Lombok.
Beberapa dari mereka sembarangan menggelar matras dan tidur-tiduran di pojokan dek atau selasar di bagian luar. Ada juga yang sekadar duduk nongkrong seperti warga lokal di sudut-sudut kapal, merokok. Anak-anak mereka asik bermain, ada yang menangis, diantar ke toilet yang sedikit bau pesing dan air tidak mengalir. Tapi semua tampak menikmati, ceria, tertawa.
Sesekali saya cek koper kami di lantai dasar feri, aman-aman saja. Di dekatnya berjajar motor-motor yang ikut menyeberang. Tampak sebagiannya membawa papan surfing yang dipak rapih.
Dari google maps, jarak tempuh dari Pelabuhan Padangbai ke Pelabuhan Lembar di Mataram sekitar 70 kilometer, yang dapat ditempuh oleh feri sekitar 4-6 jam. Cukup lama. Setelah berfoto sana sini, kami kembali ke ruangan duduk kami. Makan siang dengan nasi kucing, kemudian sholat di mushola. Wudhu harus di toilet. Air mengalir mati namun di bak tersedia air yang bersih dan banyak.
Mengisi perjalanan, kami tertidur, membaca, keluar cari udara segar, nonton youtube, atau ngobrol. Melihat-lihat laut lepas, berharap-harap muncul rombongan lumba-lumba yang tidak muncul-muncul.
Tiba di Akhir Perjalanan Jalur Lambat Bogor - Lombok
Tepat pukul lima sore, feri mulai merapat di Pelabuhan Lembar Lombok. Kami tidak terburu-buru, membiarkan sebagian besar penumpang turun terlebih dahulu. Tidak terlalu hiruk pikuk di atas kapal, sepertinya tidak ada buruh bagasi yang merangsek sampai ke atas kapal seperti di pelabuhan lain.
Kami turun, koper kami sedikit bergerak dari posisi semula di lantai dasar, tapi tidak jauh. Sebagian mobil-mobil besar telah keluar. Kami bergerak perlahan mengikuti arus penumpang lain.
Tepat setelah keluar kapal, seorang anak remaja menawarkan jasa porter. Kami langsung iyakan. Wajahnya selalu tersenyum. Menawarkan jasa 35 ribu. Kami minta antar sampai di masjid di luar pelabuhan. Dia menyanggupi.
Kami jalan beriringan. Sesekali masih berfoto ria. Redup langit sore berpadu mendung yang menggantung. Kami tiba di depan Masjid Baital Aman, sekitar 300 meter dari jembatan pelabuhan kapal. Sepanjang jalan setelah luar pelabuhan, tampak berjajar mobil-mobil MPV berebut mencari penumpang, masih sopan.
Tak lama, datang mobil yang menjemput, kawan isteri saya. Gerimis mulai turun. Mobil segera berjalan, hujan deras tiba-tiba turun. Ngobrol cerita perjalanan kami, sampai kami tiba di Kota Mataram.
Alhamdulillah, seluruh perjalanan kami berjalan lancar. Empat hari tiga malam, menempuh jalur lambat dari Bogor ke Lombok. Satu malam di kereta, dua malam di Denpasar. Pengalaman yang luar biasa, capek namun seru. Kami nikmati dan syukuri.
Besok kami sudah beraktivitas sesuai rencana dan akan berpergian lagi ke beberapa tempat di Lombok untuk tujuan studi isteri saya. InsyaAllah semua lancar.
0 Komentar