Pakar Al-Azhar Kairo Bedah Sejarah Qira’at di PP Nurul Jadid, Tegaskan Pentingnya Literasi Al-Qur’an Moderat

PROBOLINGGO – Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Kabupaten Probolinggo, kembali menghadirkan atmosfer keilmuan berskala internasional melalui kegiatan Daurah Al-Qur’an yang menghadirkan ulama terkemuka asal Mesir, Syekh Dr. Muhammad Dasuqi Amin Kahilah, Jumat (30/1/2026). Ulama yang juga merupakan pakar ilmu Al-Qur’an dari Universitas Al-Azhar Kairo itu mengupas secara mendalam sejarah serta urgensi ilmu Qira’at dalam menjaga orisinalitas wahyu Al-Qur’an.

Di hadapan ratusan santri dan pengurus pesantren yang memadati Aula I PP Nurul Jadid, Syekh Dasuqi menegaskan bahwa keberagaman bacaan Al-Qur’an atau Qira’at merupakan bentuk kemudahan (taysir) yang Allah SWT berikan kepada umat Islam. Menurutnya, perbedaan bacaan tersebut justru menunjukkan keluwesan Al-Qur’an dalam menjangkau umat dengan latar bahasa dan dialek yang beragam.

Ia menganalogikan kondisi masyarakat Arab pada masa turunnya Al-Qur’an dengan situasi Indonesia saat ini. Jazirah Arab, kata Syekh Dasuqi, terdiri dari berbagai suku dengan dialek yang berbeda-beda, sebagaimana Indonesia yang memiliki ratusan bahasa daerah namun dipersatukan oleh satu bahasa nasional.

“Al-Qur’an tidak hanya diturunkan dengan dialek Quraisy, tetapi dengan bahasa Arab yang luas. Ini agar umat Islam dari berbagai latar belakang bisa mempelajarinya dengan mudah. Sama seperti Indonesia, meski berbeda dialek dan logat, kita tetap disatukan oleh satu bahasa,” ujarnya.

Mengutip hadis Nabi Muhammad SAW, “Unzilal Qur’an ‘ala sab’ati ahruf” (Al-Qur’an diturunkan dalam tujuh ragam bacaan), Syekh Dasuqi menekankan bahwa perbedaan qira’at bukanlah bentuk kontradiksi, melainkan kekayaan makna yang saling melengkapi. Ia mencontohkan variasi bacaan dalam beberapa lafaz, seperti majraha dan majreha, yang tetap sahih dan memiliki dasar sanad yang kuat.

Menurutnya, pemahaman terhadap ilmu Qira’at menjadi sangat penting agar umat Islam tidak terjebak pada klaim kebenaran tunggal dalam membaca Al-Qur’an. Selama bacaan tersebut memiliki sanad yang bersambung hingga Rasulullah SAW, maka bacaan itu tetap berada dalam koridor kebenaran.

Lebih lanjut, Syekh Dasuqi membandingkan proses penjagaan Al-Qur’an dengan kitab-kitab samawi sebelumnya. Taurat, kata dia, diturunkan dalam bentuk tulisan di atas papan, sementara Al-Qur’an diturunkan dan dijaga melalui hafalan para sahabat, kemudian diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi.

“Inilah yang disebut sebagai I’jazul Qur’an atau kemukjizatan Al-Qur’an. Meski menghadapi berbagai upaya pengingkaran sejak masa Musailimah al-Kadzdzab hingga era modern, Al-Qur’an tetap terjaga kemurniannya tanpa ada penambahan maupun pengurangan,” jelasnya.

Dalam paparan sejarahnya, Syekh Dasuqi juga menyinggung peran penting Khalifah Utsman bin Affan dalam kodifikasi Al-Qur’an. Ia menjelaskan bahwa Utsman bin Affan melakukan standarisasi mushaf dan mengirimkannya ke berbagai wilayah Islam, seperti Makkah, Kufah, Basrah, Yaman, dan Syam, untuk mencegah perbedaan bacaan yang berpotensi menimbulkan perpecahan.

“Sayyidina Utsman tidak hanya mengirim mushaf, tetapi juga mengutus para guru ahli Al-Qur’an ke wilayah-wilayah tersebut. Tujuannya agar umat Islam membaca Al-Qur’an berdasarkan sanad yang benar, bukan berdasarkan kehendak pribadi,” tegasnya.

Terkait kehadiran ulama Al-Azhar di Indonesia, Syekh Dasuqi menilai hal tersebut sebagai langkah strategis dalam menjaga moderasi beragama. Menurutnya, Al-Azhar selama ini dikenal sebagai benteng Islam wasathiyah yang menolak ekstremisme dan pemahaman keagamaan yang menyimpang.

“Indonesia membutuhkan rujukan keilmuan yang otoritatif dan moderat. Al-Azhar hadir untuk memperkuat pemahaman Islam yang damai, seimbang, dan berakar pada tradisi keilmuan yang kuat,” ungkapnya.

Sementara itu, pihak Pondok Pesantren Nurul Jadid berharap kegiatan Daurah Al-Qur’an ini mampu memperkuat literasi Al-Qur’an di kalangan santri. Tidak hanya dari sisi kelancaran membaca, tetapi juga pemahaman terhadap sejarah, metodologi, dan disiplin keilmuan yang menyertai turunnya Al-Qur’an.

Melalui kegiatan ini, pesantren berharap para santri memiliki fondasi keilmuan yang kokoh, berwawasan luas, serta mampu menjadi agen penyebar Islam yang moderat dan mencerahkan di tengah masyarakat. (*)

0 Komentar