Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Bali di Kuartal I/2026

Bali diperkirakan akan tetap menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang kuat pada kuartal I/2026. Hal ini didorong oleh optimisme konsumen, realisasi investasi yang terus berlanjut, serta pertumbuhan sektor pariwisata yang signifikan. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja, menjelaskan bahwa momentum hari raya seperti Imlek, Nyepi, dan Ramadan hingga Idulfitri dapat turut mendorong pertumbuhan ekonomi Bali.
Perayaan Nyepi diproyeksikan meningkatkan belanja rumah tangga karena kebutuhan masyarakat untuk persiapan perayaan tersebut. Begitu pula dengan perayaan Ramadan dan Idulfitri, yang juga diharapkan memberikan dampak positif terhadap perekonomian Bali. Dari sisi pariwisata, peningkatan penerbangan internasional, kegiatan MICE, serta penambahan akomodasi pariwisata baru turut mendorong peningkatan kunjungan wisata.
Dari sektor pertanian, kebijakan penurunan HET pupuk subsidi, penggunaan bibit unggul, dan iklim yang lebih baik berpotensi menghasilkan hasil pertanian yang lebih tinggi. Selain itu, masih kuatnya konstruksi proyek swasta terutama terkait pariwisata dapat turut mendorong pertumbuhan ekonomi Bali.
Strategi Utama Bank Indonesia untuk Pertumbuhan Ekonomi Bali
Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Bali yang inklusif dan berkelanjutan, Bank Indonesia merekomendasikan lima strategi utama Panca Kerthi. Berikut adalah strategi-strategi tersebut:
- Memperkuat sektor unggulan di luar sektor pariwisata sebagai sumber ekonomi baru Bali melalui penguatan sektor pertanian, mendorong ekonomi kreatif, serta memperluas investasi berkualitas.
- Mengakselerasi terwujudnya pariwisata yang berkualitas melalui perluasan dan diversifikasi destinasi wisata sesuai karakteristik daerah dan budaya lokal.
- Mengendalikan inflasi dan menjaga daya beli masyarakat melalui penguatan sinergi dalam Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) dan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi (GNPIP), optimalisasi rantai pasok melalui Perumda, perluasan Kerja sama Antar Daerah (KAD) berkualitas, serta perluasan distribusi melalui berbagai gerai inflasi.
- Mendorong akses pembiayaan yang lebih inklusif, salah satunya melalui pembiayaan kepada UMKM dan sektor prioritas. Memperluas dan mengakselerasi digitalisasi Sistem Pembayaran melalui perluasan penggunaan QRIS, pengembangan ekosistem digital UMKM, serta peningkatan edukasi keamanan transaksi.
- Meningkatkan kolaborasi antara pemerintah, pelaku ekonomi, dan pemangku kepentingan terkait untuk mendukung berbagai inovasi serta kebijakan strategis daerah. Kolaborasi ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Bali yang inklusif, berkelanjutan, dan memiliki daya saing tinggi di tingkat nasional maupun global.
Kinerja Ekonomi Bali pada Kuartal IV/2025
Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, perekonomian Bali pada kuartal IV/2025 tumbuh sebesar 5,86% YoY. Capaian tersebut berada di atas nasional yang sebesar 5,39% YoY. Dengan realisasi ini, Bali menjadi salah satu provinsi dengan tingkat pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia.
Sepanjang tahun 2025, ekonomi Bali tumbuh tinggi pada 5,82% YoY, lebih tinggi dari nasional sebesar 5,11% YoY. Kondisi ini menunjukkan kinerja ekonomi Bali yang tetap kuat dan berdaya tahan dalam menghadapi dinamika ketidakpastian ekonomi global.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga tumbuh menguat sebesar 5,85% (YoY) dipengaruhi oleh pengeluaran transportasi, rekreasi dan budaya, serta penginapan dan hotel sejalan dengan aktivitas pariwisata yang lebih tinggi. Konsumsi pemerintah meningkat 10,73% (YoY) seiring peningkatan belanja pegawai serta belanja bantuan sosial baik dari APBN maupun APBD. Sedangkan investasi (PMTB) tumbuh 5,47% (YoY) terutama pada sub komponen PMTB bangunan didukung peningkatan realisasi investasi PMA dan PMDN.
Sementara itu, ekspor luar negeri tumbuh 5,43 % (YoY) seiring ekspor jasa oleh peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara dan nusantara. Dari sisi lapangan usaha (LU), pertumbuhan ekonomi Bali yang kuat didorong pertumbuhan semua LU. Pertumbuhan ekonomi tertinggi terdapat pada lapangan usaha akomodasi dan makan minum (akmamin) yang tumbuh 8,90 % (YoY), didukung peningkatan kunjungan wisatawan. Selanjutnya lapangan usaha perdagangan tumbuh 5,97% (YoY), yang tercermin dari peningkatan aktivitas wisatawan dan perdagangan bahan baku konstruksi.
Kemudian lapangan usaha transportasi dan pergudangan tumbuh 5,53%, didorong tingginya kunjungan wisatawan khususnya di Bandara I Gusti Ngurah Rai. LU Konstruksi juga tumbuh 2,84% (YoY), sejalan dengan realisasi investasi. Berikutnya, LU Pertanian tumbuh 0,25 % (YoY) didorong oleh subsektor perkebunan (kelapa dan kakao) dan peternakan (telur ayam, daging ayam, dan daging sapi).
0 Komentar