Stunting Kalteng Capai 22,1 Persen, Barito Selatan dan Seruyan Paling Tinggi

Stunting Kalteng Capai 22,1 Persen, Barito Selatan dan Seruyan Paling Tinggi

Perkembangan Angka Stunting di Kalimantan Tengah

Berdasarkan data terbaru, angka stunting di Kalimantan Tengah mengalami penurunan dari 23,5 persen pada Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menjadi 22,1 persen berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024. Meskipun demikian, masih ada beberapa wilayah yang angka stuntingnya melebihi standar nasional.

Beberapa kabupaten seperti Barito Selatan dengan angka 33,3 persen, Seruyan sebesar 32,2 persen, Pulang Pisau 27,9 persen, dan Kapuas 22,5 persen menunjukkan bahwa tantangan dalam menekan angka stunting masih sangat nyata. Di sisi lain, kabupaten-kabupaten lain seperti Barito Utara mencatatkan 20,4 persen, Lamandau 18,3 persen, dan Gunung Mas 14,1 persen.

Kepala Dinas P3APPKB Kalteng, Linae Victoria Aden, menyatakan bahwa secara persentase, Kalimantan Tengah masih berada di atas rata-rata nasional sekitar 2,3 poin. Ia menjelaskan bahwa tantangan utama dalam penanganan stunting terletak pada ketimpangan antarwilayah. Beberapa daerah masih mencatat angka stunting cukup tinggi, bahkan mengalami kenaikan.

Linae menegaskan bahwa kondisi ini tidak bisa disederhanakan sebagai kegagalan penanganan stunting. Justru, data ini menunjukkan bahwa intervensi yang fokus dan konsisten dapat memberikan hasil yang signifikan. Di saat beberapa wilayah masih memiliki angka stunting tinggi, wilayah lain mampu menurunkannya secara signifikan.

Terkait data terbaru untuk tahun 2026, hingga saat ini belum tersedia angka resmi, termasuk untuk bulan Januari. SSGI dilakukan satu kali dalam setahun, bukan bulanan. Oleh karena itu, data resmi stunting 2026 baru akan tersedia setelah SSGI 2025 dirilis.

Faktor yang Mempengaruhi Angka Stunting

Menurut Linae, selisih capaian antara Kalimantan Tengah dan nasional bukan disebabkan oleh stagnasi di daerah, melainkan karena baseline stunting Kalteng sebelumnya memang lebih tinggi dibanding rata-rata nasional. Tantangan ke depan bukan lagi soal apakah terjadi penurunan, tetapi bagaimana mempercepat laju penurunan, terutama di kabupaten dan kota dengan prevalensi stunting tinggi.

Lebih jauh, ia menilai faktor memengaruhi angka stunting di Kalimantan Tengah pada 2025 tidak bisa disederhanakan hanya pada persoalan ekonomi. Faktor lain yang sangat menentukan adalah kualitas gizi ibu dan anak, pola asuh keluarga, akses terhadap layanan kesehatan, serta kondisi sanitasi lingkungan.

Ia juga menekankan bahwa penyebab stunting di Kalimantan Tengah tidak bersifat seragam antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. Perbedaan karakteristik geografis, sosial ekonomi, serta akses layanan dasar turut memengaruhi variasi angka stunting antar kabupaten dan kota.

Pendekatan Berbasis Wilayah

Karena karakter wilayah berbeda-beda, maka upaya penurunan stunting tidak bisa disamaratakan. Pendekatannya harus berbasis wilayah dan fokus pada faktor penyebab dominan di masing-masing daerah. Ia menyoroti peran krusial pola asuh dan tingkat kesadaran orang tua dalam mencegah stunting, khususnya pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan.

Masih ditemukan persepsi keliru bahwa anak pendek adalah faktor keturunan, sehingga penanganan sering terlambat. Padahal, stunting bisa dicegah jika terdeteksi dan ditangani sejak dini.

Strategi Ke depan

Menurut Linae, peningkatan edukasi gizi dan perubahan perilaku keluarga harus menjadi kunci utama dalam percepatan penurunan stunting di Kalimantan Tengah ke depan. Penurunan stunting tidak cukup dilihat dari angka semata, tetapi harus tercermin dari perubahan perilaku keluarga dan kesadaran masyarakat dalam menjaga kesehatan ibu dan anak.

Karena itu, ia menekankan perlunya pendekatan lebih spesifik dalam penanganan stunting ke depan. Fokus 2025–2026 harus diarahkan pada intervensi yang lebih terfokus wilayah, agar penurunan stunting tidak hanya berlanjut, tetapi juga bisa melampaui rata-rata nasional di tahun-tahun berikutnya.


0 Komentar