
Kesempatan Pendidikan Gratis untuk Siswa Berkebutuhan Khusus di Lebak
Desti Ayundira Putri, seorang siswi berusia 15 tahun asal Lebak, awalnya memiliki rencana untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga setelah lulus dari Sekolah Menengah Pertama (SMP) pada Juni 2025. Namun, rencana tersebut berubah setelah dia diterima sebagai salah satu siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 34 Kabupaten Lebak.
Desti mengungkapkan rasa gembira dan kebahagiaan saat menerima pengumuman bahwa dia telah terpilih menjadi siswa SRMA. Baginya, melanjutkan pendidikan adalah impian yang selama ini tidak bisa diwujudkan karena keterbatasan ekonomi keluarga. Ia menyadari bahwa biaya pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Rangkasbitung terlalu mahal bagi orang tuanya.
"Alhamdulillah, saya sangat senang karena sekolah rakyat ini gratis dan ada asrama, jadi tidak akan membebani orang tua," kata Desti saat ditemui di Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Banten, Senin (14/7/2025). Ia juga menunjukkan semangat tinggi untuk mengikuti kegiatan belajar di sekolah rakyat, meskipun harus meninggalkan kedua orang tuanya.
Raut wajahnya tampak cerah saat ia mengunjungi asrama tempat ia akan tinggal selama masa pendidikan. "Kamarnya besar, ada AC, dan kamar mandinya menggunakan shower," ujarnya dengan antusias.
Sumiati, ibu Desti, merasa sangat bahagia melihat anaknya mendapatkan kesempatan belajar di sekolah rakyat. Ia berharap Desti dapat mengangkat derajat keluarganya melalui pendidikan. "Saya terharu dan menangis ketika tahu anak saya terpilih. Saya sangat bersyukur melihat fasilitas yang disediakan pemerintah," ujar Sumiati.
Sumiati menjelaskan bahwa Desti awalnya sudah didaftarkan ke lembaga penyalur pembantu untuk bekerja di Jakarta karena tidak mampu menyekolahkan anaknya. Saat ini, Sumiati berjualan kecil-kecilan di sekolah dasar di Kecamatan Cimarga, sementara suaminya sudah sakit selama empat tahun dan tidak bisa bekerja. Awalnya, Desti ingin bekerja sambil mengambil paket C, tetapi rencana itu berubah setelah Dinas Sosial memberi tahu bahwa dia terpilih untuk masuk SRMA.
Menurut Sumiati, Desti terpilih karena termasuk dalam data kelompok penerima Program Keluarga Harapan (PKH), yang digunakan oleh Dinas Sosial untuk menyeleksi calon murid SRMA. Sekolah Rakyat Lebak akan mulai beraktivitas pada 30 Juli mendatang, setelah lokasi sekolah yang berada di Gedung BPMP Banten di Rangkasbitung selesai dalam penambahan sarana.
Kepala Bidang Pemberdayaan Sosial Dinas Sosial Kabupaten Lebak, Lela Gifty Cleria, menjelaskan bahwa SRMA di Lebak merupakan bagian dari tahap 1B bersama 37 sekolah rakyat lain di seluruh Indonesia. "Ada 100 lokasi sekolah rakyat di Indonesia, 63 di antaranya sudah masuk asrama pada 14 Juli 2025, sementara di sini sarana masih dalam proses sehingga tidak memungkinkan anak-anak masuk asrama sekarang," kata Lela di Gedung BPMP Banten.
Meskipun demikian, para siswa yang terpilih sudah hadir di gedung BPMP Banten untuk mengikuti seremonial peluncuran sekolah rakyat secara serentak di seluruh Indonesia melalui zoom. Mereka juga dijadwalkan untuk cek kesehatan dan pengenalan lingkungan sekolah. "Siswa dicek kesehatannya lalu diajak keliling melihat kelas dan juga asrama yang nantinya akan mereka tempati," jelas Lela.
Setelah mengikuti kegiatan hari ini, para siswa diperbolehkan pulang ke rumah masing-masing dan dijadwalkan kembali pada 30 Juli mendatang untuk masuk ke asrama. SRMA 34 Lebak memiliki 100 siswa dengan empat rombongan belajar (rombel), yang sebelumnya telah mengikuti seleksi dari keluarga tidak mampu yang termasuk dalam desil 1 dan 2 berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
0 Komentar