
SD Kanisius Bandung I dan SDN 1 Patalan: Kehilangan Siswa Baru, Tapi Tetap Berjuang
SD Kanisius Bandung I di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menggelar Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tanpa satu pun siswa baru. Hal ini berbeda dari kebiasaan biasanya, di mana sekolah swasta tersebut biasanya menerima banyak pendaftar. MPLS tahun ini hanya diikuti oleh 24 siswa yang berasal dari kelas 2 hingga kelas 6.
Menurut FX Yulianto, staf SD Kanisius Bandung I, ada satu orang calon siswa yang mendaftar, namun dialihkan ke sekolah lain dalam satu yayasan. Keputusan ini diambil untuk memastikan kepentingan siswa, bukan hanya sekolah. “Kita memikirkan siswa karena kaitannya dengan sosialisasi anak,” ujarnya. Orang tua calon siswa juga menyetujui keputusan tersebut, sehingga siswa akhirnya dipindahkan ke SD Kanisius Wonosari II, yang berada di bawah yayasan yang sama.
Yulianto menyebut bahwa penurunan jumlah siswa mulai terasa sejak awal tahun 2000-an. Dulu, sekolah ini ramai, tetapi seiring berkembangnya sekolah-sekolah lain, jumlah siswa menurun secara bertahap. Tahun lalu, ada tiga siswa baru, sedangkan tahun ini hanya satu orang. Faktor-faktor seperti keberhasilan program Keluarga Berencana (KB) serta hadirnya sekolah negeri dan swasta lain di sekitarnya diduga menjadi penyebab penurunan tersebut.
Meski hanya memiliki 24 siswa aktif, SD Kanisius Bandung I tetap beroperasi normal. Jumlah guru tetap lengkap, yaitu sembilan orang. Yulianto menegaskan bahwa prestasi sekolah tidak tertinggal. Bahkan, pada tahun ini, sekolah meraih peringkat dua di tingkat korwil dan sekitar 15-an di tingkat kabupaten. Yayasan masih memberikan kepercayaan kepada sekolah untuk melanjutkan pendidikan. Ia berharap tahun depan bisa mendapatkan lebih banyak siswa baru.
SDN 1 Patalan: Sunyi di Hari Pertama MPLS
Di sisi lain, nasib SD Negeri 1 Patalan di Desa Patalan, Kecamatan Blora, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, cukup memilukan. Tidak ada murid baru yang mendaftar, meskipun sekolah ini menawarkan seragam gratis dan antar jemput gratis. Ruang kelas 1, yang biasanya ramai, kini sunyi. Kepala Sekolah, Dhian Mayasari, duduk sendiri di samping meja guru, membersihkan debu dari meja dan kursi yang ditumpuk rapi.
“Biasanya di hari pertama MPLS, ruang kelas 1 ini penuh dengan kegiatan perkenalan antara murid dan guru-guru, fasilitas sekolah, sarana-sarana. Tapi karena tidak ada siswa baru, ruang kelas 1 jadi sepi,” kata Dhian dengan sedih. Meskipun demikian, kegiatan MPLS tetap dilakukan untuk siswa kelas 2 sampai kelas 6, termasuk perkenalan dengan wali kelas, pembagian jadwal piket, dan kesepakatan kelas.
Dhian mengatakan bahwa SDN 1 Patalan selama beberapa tahun terakhir mengalami penurunan jumlah siswa. Setiap tahun, jumlah siswa di setiap kelas kurang dari 10 orang. Penyebabnya diduga karena lokasi geografis yang kurang strategis atau efektivitas program KB. Untuk menarik minat orang tua, sekolah menawarkan berbagai fasilitas seperti seragam dan alat sekolah gratis, serta antar jemput. Namun, hingga kini belum ada respon positif.
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Blora, Sunaryo, menyatakan bahwa SDN 1 Patalan berpotensi diregroup dengan SDN 2 Patalan karena lokasinya yang dekat. Namun, saat ini masih menunggu laporan dari koordinator wilayah mengenai usulan sekolah-sekolah yang akan diregroup. Meski situasi sulit, kedua sekolah ini tetap berusaha menjaga kualitas pendidikan dan berupaya menarik siswa baru.
0 Komentar