
Sekolah Rakyat di Yogyakarta dan Jawa Timur: Fasilitas Lengkap Tapi Banyak Siswa Mengundurkan Diri
Sekolah Rakyat (SR) yang dibangun dengan fasilitas lengkap ternyata tidak berhasil menarik minat sejumlah siswa. Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), sebanyak 29 siswa dari dua sekolah rakyat, yaitu SR Menengah 19 Sonosewu dan SR Menengah 20 Purwomartani, memilih untuk kembali ke sekolah reguler.
Fasilitas yang Disediakan
Fasilitas yang diberikan kepada siswa Sekolah Rakyat sangat lengkap. Mulai dari asrama, makan tiga kali sehari, seragam, sepatu, ransel, hingga alat belajar seperti laptop atau tablet. Bahkan, siswa perempuan juga mendapatkan pembalut secara gratis. Selain itu, para siswa juga dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi setelah lulus.
Di SR Menengah 19 Sonosewu, terdapat 20 ruang kelas, laboratorium kimia, biologi, fisika, serta ruang guru dan tata usaha. Asrama di sekolah ini dilengkapi tempat tidur susun, kipas angin, kamar mandi, dan lemari. Ada juga ruangan wali asuh di tiap asrama. Totalnya ada 10 ruangan asrama, dengan 4 ruangan untuk siswa perempuan dan 6 ruangan untuk siswa laki-laki.
Sementara itu, SR Menengah 20 Purwomartani memiliki 75 siswa dengan tiga rombongan belajar. Setiap rombel terdiri dari 25 siswa. Meskipun fasilitas lengkap dan tarif yang nyaris gratis, banyak siswa tetap memilih untuk meninggalkan Sekolah Rakyat.
Alasan Siswa Mengundurkan Diri
Kepala Dinas Sosial DIY, Endang Patmintarsih, menyebutkan bahwa alasan utama pengunduran diri adalah karena siswa masih ingin bersekolah di sekolah reguler dan tidak siap meninggalkan teman-teman sebayanya. “Ada 26 siswa yang mundur pada awalnya, lalu menyusul 3 orang lainnya. Totalnya 29 siswa dari dua SR,” ujarnya.
Endang menjelaskan bahwa beberapa siswa mengungkapkan alasan tidak bisa bermain dengan teman-temannya jika pindah ke SR. “Ini membutuhkan edukasi dari masyarakat agar lebih memahami konsep Sekolah Rakyat,” katanya.
Menurut Endang, proses perekrutan siswa harus didampingi oleh orang tua dan anak. “Jika semangat orang tua ada, maka semangat anak juga harus ada. Karena jika tidak, nanti akan menjadi masalah,” tambahnya.
Pemantauan Gubernur Jawa Timur
Di Jawa Timur, Sekolah Rakyat juga mendapat dukungan penuh dari Gubernur Khofifah Indar Parawansa. Pada hari pertama masuk, ia meninjau lokasi Sekolah Rakyat di Rusun Sederhana Kota Probolinggo. Sebanyak 100 siswa dari keluarga prasejahtera hadir dalam acara tersebut.
Gubernur Khofifah menyampaikan bahwa Sekolah Rakyat merupakan bentuk nyata kehadiran negara dalam membantu anak-anak yang sulit mengakses pendidikan formal. “Hari ini bukan hanya awal masuk sekolah, tapi awal harapan besar bangsa bagi generasi penerus,” ujarnya.
Operasional Sekolah Rakyat di Jawa Timur
Di Jawa Timur, terdapat 12 lokasi Sekolah Rakyat yang mulai beroperasi pada hari pertama. Total siswa yang ikut belajar mencapai 1.183 orang, mulai dari jenjang SD, SMP, hingga SMA. Para siswa juga diajak untuk mengikuti pemeriksaan kesehatan, pengenalan lingkungan sekolah, serta orientasi nilai-nilai dasar pendidikan dan kebangsaan.
Selain itu, orang tua siswa juga diberi kesempatan untuk melihat langsung fasilitas sekolah dan berinteraksi dengan tenaga pengajar. Hal ini penting karena konsep Sekolah Rakyat adalah boarding school, di mana siswa wajib tinggal di asrama.
Dukungan dari Berbagai Pihak
Tidak hanya itu, para siswa dan keluarga juga didampingi oleh pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), pendamping sosial, serta Jatim Social Care. Selain itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Sosial RI telah menyiapkan berbagai perangkat pendukung, seperti Buku Pintar SR, buku siswa, panduan pelaksanaan MPLS, hingga modul pembelajaran khusus.
Gubernur Khofifah menegaskan bahwa cara efektif untuk memutus mata rantai kemiskinan adalah melalui pendidikan. “Dengan dukungan fasilitas dan tenaga pengajar yang mumpuni, kami pastikan proses pembelajaran berjalan lancar. Segala kebutuhan siswa benar-benar akan dipenuhi secara optimal selama mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat,” tegasnya.
0 Komentar