Rudy Hartono, Sang Dewa Pemancing di Rumah Merah Heritage Lasem

Featured Image

Pengalaman Mengunjungi Rumah Merah Heritage di Lasem

Perjalanan di Lasem tidak lengkap tanpa mengunjungi Rumah Merah Heritage. Setelah melewati Karangturi dengan sepeda, kini kami bisa masuk dan menjelajahi rumah yang sebelumnya hanya bisa dilihat dari luar. Di bawah langit yang mulai terik, rumah ini menyambut kami dengan penuh semangat.

Mobil Elf berhenti di halaman yang luas. Kami turun satu per satu, dan mata langsung tertarik pada baliho besar yang bertuliskan “Jelajah Lasem” serta janji bahwa seluruh langkah akan berhenti di sini. Baliho ini dihiasi gambar-gambar seperti suasana membatik, Sumur Kuning 1860, Bunker Bawah Tanah, kereta kelinci hijau, dan pemandu berbatik cerah. Baliho ini menjadi representasi dari misi Rumah Merah: sebagai pusat pengalaman budaya yang menggabungkan sejarah, akulturasi, dan seni.

Kami menerima stiker berbentuk gelang sebagai tiket masuk. Area pintu masuk juga berfungsi sebagai gerai makanan dan minuman, tempat beristirahat setelah berkeliling. Seorang pemandu ramah menyambut kami, meski kali ini Mas Agik menunggu di luar.

Di halaman dalam, lantainya dari batu alam abu-abu yang teduh. Di sisi kanan terpajang deretan baju batik dan aksesoris, menandakan fungsi galeri dan toko batik. Di tengah halaman berdiri patung perempuan sedang membatik, melambangkan semangat batik tulis Lasem yang lembut tapi penuh ketekunan.

Logo Oemah Batik Tiga Negeri Lasem terpampang di belakang patung. Arsitektur bangunan utama menggabungkan Tionghoa-Hindia dengan pilar-pilar besar, jendela kayu tua, dan genteng limasan. Pendopo utama memiliki langit-langit terbuka dengan balok-balok kayu besar. Di atas tiga pintu tergantung plakat aksara Hanzi. Pintu tengah dihiasi lampion merah yang melambangkan keberuntungan dan perlindungan.

Di bagian dalam, patung Dewa Perang Kwan Kong menyambut kami. Ia dipercaya sebagai penjaga rumah, pelindung dari energi negatif, dan pembawa keberkahan. Di kedua sisi terdapat kamar yang difungsikan sebagai penginapan. Nama-nama kota besar Tiongkok seperti Beijing, Shanghai, Guangzhou, dan Shenzhen digunakan sebagai nama kamar.

Menurut pemandu, rumah ini dibangun sekitar tahun 1860 dan sempat difungsikan sebagai rumah walet. Pada 2012, rumah ini dibeli oleh Bapak Rudy Hartono yang merestorasi dan menghidupkan kembali bentuk aslinya.

Di bagian belakang rumah, halaman luas terbuka dengan dinding tembok dicat merah tua dan aksen kuning keemasan. Salah satu sudutnya adalah Sumur Kuning 1860 yang airnya jernih dan tidak pernah kering. Konon, air dari sumur ini membawa berkah dan membuat awet muda.

Melewati mushola dan ruang latihan wushu, kami menemui patung Ganesha dengan empat tangan, duduk tenang di bawah pohon rindang. Di dekatnya, terdapat patung Dewa Pemancing Jiang Taigong yang melambangkan kesabaran dan harapan. Di seberangnya, terdapat patung Rudy Hartono yang digambarkan dalam jas hitam dan dasi merah.

Panggung utama di aula luas memiliki backdrop bertuliskan #MelokalDenganBatik. Di sisi lainnya, terdapat panggung kecil untuk pertunjukan budaya. Kostum barongsai biru, topeng, drum, dan replika kepala reog Tionghoa tersusun rapi. Latar merah bertuliskan Selamat Datang di Rumah Merah dengan bendera Merah Putih berkibar di kanan-kiri.

Kunjungan ditutup di Galeri Tiga Negeri yang memamerkan batik klasik dengan motif Tiga Negeri. Ada panel sejarah, foto proses restorasi, serta koleksi benda antik seperti meja altar, lemari ukir, dan kursi rotan.

Siang itu, kami meninggalkan Rumah Merah Heritage bukan hanya sebagai tamu, tapi sebagai penjelajah waktu. Di pergelangan masih terpasang gelang kertas kecil, tapi yang lebih melekat adalah ingatan akan rumah tua yang bangkit lagi. Dan seperti janji di baliho depan tadi, mungkin benar: seluruh langkah akan berhenti di sini, di sebuah rumah merah yang menyimpan begitu banyak warna.

0 Komentar