Tokoh yang Mengukir Sejarah dengan Ketulusan
Sumpah Pemuda, yang terdiri dari tiga ikrar utama—satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa—telah menjadi simbol persatuan yang tak pernah pudar sepanjang sejarah Indonesia. Meskipun kini telah berlalu 97 tahun sejak pengucapan pertamanya pada Kongres Pemuda II di Gedung Oost-Java Bioscoop, Stovia-Batavia, tanggal 28 Oktober 1928, kata-kata itu masih tetap menggema dalam jiwa rakyat Indonesia.
Karya dan gagasan Mohammad Yamin, sosok yang mungkin tidak dikenal secara luas oleh masyarakat umum, memiliki kontribusi besar dalam membangun identitas nasional Indonesia. Karyanya lahir bukan untuk mencari keabadian, tetapi ketulusannya justru menjadikannya abadi. Ia adalah tokoh yang mengukir sejarah dengan pikiran yang cerdas dan sistemik.
Perjalanan Sumpah Pemuda
Sumpah Pemuda bukanlah jampi-jampi atau mantra, bukan pula bait sajak atau lagu. Namun, rangkaian kata itu memiliki "tuah" yang luar biasa. Dari coretan tangan di atas sehelai kertas bekas, ia menjadi bagian dari perjalanan sebuah negara berdaulat, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bahkan jika NKRI berusia satu juta tahun, kata-kata itu akan tetap menjadi bagian dari sejarahnya.
Pada saat itu, para pemuda Indonesia merumuskan Sumpah Pemuda sebagai bentuk kebutuhan mendesak sebelum NKRI ada. Mereka menyadari bahwa suatu hari nanti, Indonesia akan menjadi negara yang berdaulat, dan Sumpah Pemuda menjadi harapan serta tekad mereka.
Kontribusi Mohammad Yamin
Mohammad Yamin, yang lahir di Talawi, Sawahlunto, Sumatera Barat, adalah sosok yang tidak hanya mengukir Sumpah Pemuda, tetapi juga berperan dalam merumuskan Pancasila dan UUD 1945. Di BPUPKI, ia menawarkan rumusan Pancasila tiga hari sebelum Soekarno menyampaikan pidato 1 Juni 1945. Gagasannya tentang "peri kebangsaan, peri ke-Tuhanan, peri kesejahteraan rakyat, peri kemanusiaan, dan peri kerakyatan" akhirnya menjadi dasar ideologi negara.
Selain itu, Yamin juga menjadi salah satu tokoh dalam Kongres Pancawarsa (I) Jong Sumatranen Bond pada 1923 dengan judul “De maleische taal in het verleden, heden en toekomst”, yang meramal dan mengajukan Bahasa Melayu sebagai bahasa nasional. Di usia 20 tahun, ia sudah mengusulkan Bahasa Melayu sebagai bahasa nasional, dan di usia 25 tahun, ia melanjutkan gagasannya dalam Sumpah Pemuda.
Keabadian dari Ketulusan
Meskipun nama Mohammad Yamin tidak sepopuler karyanya, keabadian tidak datang dari niat untuk keabadian. Justru, keabadian lahir dari ketidakabadian. Sumpah Pemuda ditulis bukan dengan emosi yang berlebihan terhadap penjajah, tetapi dengan ketenangan dan diplomasi. Bukan melalui demonstrasi, tetapi melalui coretan tangan yang penuh makna.
Dalam salah satu sajaknya, Yamin menulis:
"Adapun kami anak sekarang
Mari berjerih berbanting tulang
Menjaga kemegahan janganlah hilang
Supaya lepas ke padang yang bebas
Sebagai poyangku masa dahulu
Karena bangsaku dalam hatiku
Turunan Indonesia darah Melayu"
Kata-kata ini mencerminkan semangat dan visinya tentang bangsa Indonesia yang kuat dan bersatu. Ia tidak hanya menjadi penulis Sumpah Pemuda, tetapi juga pelaku yang membawa perubahan besar bagi Indonesia.
Penutup
Mohammad Yamin adalah contoh nyata dari seseorang yang tidak mencari penghargaan, tetapi memberikan kontribusi besar bagi bangsa. Karyanya menjadi fondasi bagi identitas nasional Indonesia. Meskipun namanya sering terlupakan, nilai-nilai yang ia bawa tetap hidup dalam setiap generasi. Keabadian tidak selalu datang dari popularitas, tetapi dari ketulusan dan dedikasi.
0 Komentar