Goresan Teman Istimewa, Fesyen Inklusif Hadirkan Dama Kara

Featured Image

Kehidupan Seorang Pelukis dengan Gangguan Perkembangan Neurologis

Pukul 9.45 WIB, jam dinding berdetak mengiringi suara tiga kucing dan keturunannya yang mengeong. Di atas meja kayu di ruang tengah, tangan Muhammad Naftali Ariska Nurrahman (26) mulai menari di atas kertas gambar A4. Warna kertasnya putih gading dan bertekstur, cocok untuk cat air. Dengan tangan kanannya yang piawai, dia menggerakkan spidol berkelir hijau tua, menggores garis-garis yang membentuk kupu-kupu.

Di rumahnya di Pasir Honje, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Naftali menghabiskan hari-harinya bersama orangtuanya dan enam kucingnya. Setiap hari, ia berkarya dengan tekun. Baginya, melukis adalah keahlian yang sudah ia kuasai sejak lulus dari Art Therapy Center (ATC) Widyatama pada 2022. Sejak muda, ia memang memiliki gangguan perkembangan neurologis, yaitu autism spectrum disorder (ASD). Namun, kondisi ini tidak menghalangi karyanya. Bahkan, karyanya tak jauh berbeda dengan pelukis normal.

Naftali lahir di Cimahi pada 3 Februari 1999. Ia mengenyam pendidikan di sekolah umum, dari TK hingga SMA, dalam proses inklusi. Orangtuanya sengaja menyekolahkan Naftali di sekolah umum agar bisa berkembang seperti anak seusianya. Namun, perjalanan pendidikannya penuh tantangan. Di sekolah, ia sering menjadi korban bullying karena kondisinya. Bahkan, saat kuliah pun, ia masih menghadapi perlakuan tidak adil dari teman-temannya.

Kepedulian orangtua terhadap Naftali sangat besar. Ika Andayasari dan Yerry Pria Budyanto, orangtuanya, memasukkan Naftali ke ATC Widyatama. Mereka khawatir jika anak mereka tidak mendapat pendidikan yang layak. Saat itu, Ika mengatakan, "Saya takut ditanya Allah. Kok, kakaknya pendidikan sampai kuliah, Naftali enggak?" Sedangkan Yerry, dengan air mata yang menitik, mengungkapkan perjuangan merawat Naftali.

Setelah lulus kuliah, Naftali mendapatkan kesempatan belajar menggambar secara gratis di Dama Kara Foundation. Selama satu tahun, ia belajar di sana setiap Selasa pagi selama dua jam. Di sana, ia belajar menggambar pola dan positive and negative space. Salah satu karyanya, gambar bunga dan daun sederhana, bahkan dijadikan motif koleksi Dama Kara. Desain tersebut dipamerkan di Indonesia International Modest Fashion Festival 2025.

Berdasarkan jurnal yang dirujuk, kegiatan seni rupa dapat menjadi terapi bagi anak penyandang autis. Seni visual bisa membantu menggali potensi anak dan melepaskan ketegangan emosional. Anak dengan autisme biasanya memiliki kemampuan visual yang lebih baik, sehingga menjadi calon yang cocok untuk profesi seniman.

Naftali merupakan angkatan kedua di Dama Kara Foundation. Tidak lama lagi, pendidikan nonformalnya akan rampung. Pada Desember mendatang, karya-karyanya akan dipamerkan bersama kawan-kawannya di Outlet Dama Kara. Ika berharap karya Naftali bisa melanglang buana hingga ke luar negeri.

Lahir dari Kepedulian

Dama Kara Foundation lahir dari kepedulian Nurdini Prihastiti (35) dan suaminya, Bheben Oscar, terhadap anak-anak dengan gangguan perkembangan neurologis. Awalnya, bisnis konfeksi seragam sekolah yang mereka jalankan mengalami kerugian besar akibat kebakaran kapal pengangkut barang. Namun, musibah ini justru menjadi titik balik bagi mereka. Dengan modal Rp15 juta, mereka membangun Dama Kara, jenama fesyen lokal yang diambil dari nama sang buah hati.

Dama Kara tumbuh pesat meskipun dihantam pandemi. Banyak orang yang bekerja dari rumah, sehingga mencari pakaian formal yang rapi tapi sederhana. Dini, salah satu pendiri Dama Kara, mengungkapkan bahwa batik membutuhkan waktu dan proses yang lebih lama dibanding pakaian biasa. Meski awalnya masih belajar, kini Dama Kara telah hadir di beberapa pasar internasional, termasuk di Busan, Korea Selatan.

Sebagai mitra binaan Bank Indonesia (BI), Dama Kara telah menjalani pembinaan dan kualitasnya layak diekspor. Dini mengaku banyak manfaat dari kolaborasi ini, termasuk bisa mempekerjakan lebih dari dua puluh karyawan tetap dan puluhan karyawan borongan. UMKM seperti Dama Kara juga berperan penting dalam meningkatkan perekonomian masyarakat dan memperkecil jurang pemisah antara yang kaya dan miskin.

Pentingnya Manajerial

Selain memberdayakan Teman Istimewa, Dama Kara juga berkomitmen untuk menyebarkan kebermanfaatan. Dini dan Bheben memperhatikan aspek manajerial agar kualitas produk tetap terjaga. Standar operasional prosedur (SOP) menjadi dasar dalam produksi pakaian. Selain itu, Dama Kara juga berkolaborasi dengan sejumlah pemengaruh dan pesohor, seperti Putri Marino, untuk memperluas pasar.

Di toko Dama Kara, karya Teman Istimewa dijadikan corak pakaian. Contohnya, desain dari Naftali digunakan dalam koleksi yang diluncurkan. Dini mengatakan, setiap penjualan karya Teman Istimewa akan memberikan royalti kepada mereka. Ini menjadi langkah kecil untuk merangkul Teman Istimewa agar tetap berkarya tanpa mengenal keterbatasan.

0 Komentar