Museum Potehi Gudo: Ruang Waktu, Kisah Wayang Tionghoa yang Menyatu dengan Jiwa Jawa di Kota Santri

Featured Image

Museum Potehi Gudo: Tempat Perpaduan Budaya Tionghoa dan Jawa

Museum Potehi Gudo berada di kompleks Klenteng Hong San Kiong, tepatnya di Desa Gudo, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang. Tempat ini menjadi saksi bisu perpaduan antara warisan Tionghoa dan kearifan lokal Jawa dalam harmoni yang langka. Di dalam museum ini, pengunjung tidak hanya melihat pameran boneka wayang, tetapi juga menelusuri jejak sejarah dan nilai-nilai kebersamaan lintas budaya yang telah bertahan selama hampir seabad.

Saat memasuki museum, pengunjung akan disambut oleh deretan boneka dengan warna-warna mencolok. Wajah-wajah mungil dengan riasan tegas itu seakan hidup di balik kaca, menatap balik seolah siap bercerita. Setiap boneka membawa kisah dari legenda klasik Tiongkok hingga cerita-cerita modern yang dikemas lebih segar untuk generasi muda.

Asal Usul Potehi

Potehi berasal dari kata “Po” yang berarti kain, “Te” yang berarti kantong, dan “Hi” yang berarti pertunjukan. Dengan demikian, maknanya adalah wayang kantong. Toni Harsono, pendiri museum sekaligus Ketua Klenteng Hong San Kiong, menjelaskan bahwa kesenian Potehi sudah tumbuh di Gudo sejak tahun 1920-an, dibawa oleh para perantau dari Tiongkok Selatan. Ia sendiri merupakan generasi ketiga dari keluarga dalang yang menjaga warisan budaya ini.

“Kakek saya datang dari Cwancu dan membawa Potehi ke Gudo. Sejak kecil saya sudah hidup di klenteng dan jatuh cinta dengan wayang ini,” ujarnya.

Seni yang Sempat Tertidur

Perjalanan Potehi tidak selalu mulus. Toni mengungkapkan bahwa pada masa tertentu, seni ini hampir punah, terutama saat Inpres Nomor 14 Tahun 1967 diberlakukan, yang membatasi ekspresi budaya Tionghoa di Indonesia. Namun, hubungan baik masyarakat Gudo dengan komunitas klenteng membuat seni ini tetap bertahan, meski dalam ruang yang terbatas.

“Waktu itu hanya bisa dimainkan secara tertutup. Tapi masyarakat sini menghargai, jadi kami masih bisa melanjutkan secara sederhana,” katanya.

Kebangkitan kembali terjadi pada era Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Ketika pelarangan terhadap budaya Tionghoa dicabut, Potehi pun kembali tampil bebas. Sejak itu, pertunjukan boneka ini sering digelar di berbagai tempat, bahkan di lembaga pendidikan.

Dari Klenteng Gudo ke Panggung Dunia

Kehidupan Potehi di Gudo kini semakin bersinar. Tak hanya tampil di berbagai daerah di Indonesia, kelompok ini juga pernah diundang ke panggung internasional seperti Jepang, Taiwan, dan Malaysia. Dalam satu pertunjukan, Potehi dimainkan oleh lima orang, dua dalang dan tiga pengiring musik. Alunan tambur, gesekan alat musik tradisional, dan denting simbal berpadu menciptakan suasana dramatis yang khas.

Ceritanya pun bervariasi tentang kepahlawanan, cinta, hingga nilai moral yang universal. “Sekarang banyak cerita kami sesuaikan dengan kondisi masa kini. Ada juga kisah lokal yang dibawa ke panggung luar negeri. Kami pernah tampil di UNESCO, membawa cerita rakyat Indonesia,” ujar Toni.

Warisan yang Butuh Pelukan Bangsa

Bagi Toni, Potehi bukan sekadar peninggalan etnis Tionghoa, melainkan bagian dari kebudayaan Indonesia yang perlu dirawat bersama. Ia berharap pemerintah memberi perhatian lebih agar seni ini bisa terus lestari dan dikenal generasi muda.

Museum Potehi Gudo menjadi saksi bagaimana identitas Tionghoa dan Jawa berpadu tanpa batas. Di tengah hiruk-pikuk dunia digital, boneka-boneka kecil itu masih menari membisikkan pesan tentang keberagaman, cinta budaya, dan kekuatan untuk tetap hidup di antara perubahan zaman.

“Wayang Potehi ini sudah ada di Indonesia sejak abad ke-17. Sudah menjadi bagian dari sejarah kita. Harapan saya, jangan lagi dianggap budaya asing. Ini sudah jadi milik bangsa,” harap Toni memungkasi.

0 Komentar