
Kinerja Kontras antara Krakatau Steel dan Garuda Indonesia
Di tengah berbagai langkah restrukturisasi dan bantuan dari pemilik saham, dua perusahaan pelat merah di Indonesia, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. (KRAS) dan PT Garuda Indonesia Tbk. (GIAA), menunjukkan kinerja yang sangat berbeda. Berikut adalah analisis terkini mengenai kinerja finansial masing-masing perusahaan.
Kinerja Keuangan KRAS
PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. berhasil mencatatkan kinerja positif di kuartal III/2025. Laba bersih perusahaan naik menjadi US$22,17 juta, berbanding terbalik dengan kerugian sebesar US$185,22 juta pada periode yang sama tahun lalu. Pendapatan usaha juga meningkat 7,39% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi US$706,08 juta per kuartal III/2025, dibandingkan US$657,52 juta pada kuartal III/2024.
KRAS juga berhasil memperbaiki struktur utangnya melalui berbagai langkah restrukturisasi. Perusahaan telah mendapatkan persetujuan dari empat bank swasta untuk melakukan penyelesaian kewajiban secara dipercepat dengan keringanan. Total kewajiban yang dilunasi mencapai Rp248,24 miliar dan US$159,06 juta. Dengan demikian, keringanan pokok yang diperoleh perseroan mencapai sekitar 80%.
Selain itu, KRAS juga sedang mengajukan bantuan modal sebesar US$500 juta atau sekitar Rp8,3 triliun dari Danantara. Bantuan ini akan berbentuk pinjaman alias shareholder loan dan diharapkan dapat terealisasi sebelum akhir tahun 2025. Dana tersebut akan digunakan untuk meningkatkan produktivitas pabrik dan memenuhi kebutuhan bahan baku.
Kinerja Keuangan GIAA
Sementara itu, PT Garuda Indonesia Tbk. masih membukukan kerugian bersih sebesar US$182,53 juta per kuartal III/2025. Angka ini lebih tinggi dibandingkan kerugian sebesar US$131,22 juta pada periode yang sama tahun lalu, yaitu naik sebesar 39,10%. Pendapatan usaha juga turun 6,7% YoY menjadi US$2,39 miliar per kuartal III/2025, dibandingkan US$2,56 miliar pada kuartal III/2024.
GIAA juga masih menghadapi tantangan dalam bentuk ekuitas negatif. Nilai aset perusahaan sebesar US$6,75 miliar tidak cukup untuk menutupi liabilitas sebesar US$8,28 miliar, sehingga ekuitasnya minus US$1,53 miliar. Untuk mengatasi masalah ini, GIAA sedang menjalani restrukturisasi dengan bantuan Danantara.
Restrukturisasi dan Bantuan dari Danantara
Dalam rangka penyehatan keuangan, GIAA telah menerima persetujuan rancangan restrukturisasi dari Danantara. Salah satu bentuk bantuan adalah shareholder loan sebesar US$405 juta atau Rp6,65 triliun yang akan dikonversikan menjadi ekuitas. Selain itu, GIAA juga rencananya akan melakukan private placement senilai US$1,84 miliar atau Rp30,31 triliun.
Dana dari private placement akan dialokasikan untuk pemeliharaan pesawat yang dioperasikan oleh Garuda Indonesia dan Citilink. Selain itu, Grup Garuda juga berencana melaksanakan sejumlah inisiatif strategis korporasi sebagai upaya memperkuat struktur permodalan serta memperbaiki posisi ekuitas.
Langkah-Langkah yang Diambil oleh KRAS
KRAS juga sedang menjalani proses restrukturisasi. Perusahaan telah memperoleh persetujuan dari empat bank swasta untuk melakukan penyelesaian kewajiban secara dipercepat dengan keringanan. Penyelesaian kewajiban ini berhasil mengurangi total utang restrukturisasi KRAS sebesar US$174,29 juta atau 12,5% dari total utang sebelumnya US$1,39 miliar.
Fedaus, Corporate Secretary KRAS, menyatakan bahwa penurunan outstanding utang restrukturisasi akan mengurangi beban bunga dan meringankan tekanan arus kas perseroan di masa depan. Selain itu, transaksi ini juga menunjukkan dukungan kuat perbankan terhadap keberlanjutan bisnis dan prospek industri baja nasional.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, KRAS menunjukkan kinerja yang positif dan stabil setelah menjalani restrukturisasi, sementara GIAA masih menghadapi tantangan dalam memperbaiki kondisi keuangannya. Namun, dengan bantuan dari Danantara dan berbagai langkah strategis, kedua perusahaan berpotensi untuk kembali pulih dan berkembang di masa depan.
0 Komentar