
Kekurangan Gas LPG 3 kg di Wilayah Pedalaman Kabupaten Kuningan
Di sebuah dusun kecil yang berada di kaki Gunung Ciremai, tepatnya di Desa Cileuleuy, Kecamatan Cibeureum, bau asap kayu bakar kembali tercium pada pagi hari. Kamis, 30 Oktober 2025, Sri (45) sedang mengipas tungku dengan sapu lidi. Ia mengatakan bahwa gas telah habis selama hampir seminggu terakhir.
"Warung Bu Nani juga kosong, jadi kami harus kembali memasak menggunakan kayu," ujarnya sambil tersenyum pasrah.
Kondisi ini tidak hanya dialami oleh Sri. Sejak pertengahan Oktober, warga di beberapa daerah pelosok Kabupaten Kuningan mengalami kesulitan mendapatkan gas LPG 3 kg. Tabung berwarna hijau melon yang biasanya mudah ditemukan di warung, kini menjadi barang langka.
Kesulitan Mendapatkan Gas LPG 3 kg
Di Desa Ciangir, yang berjarak sekitar 35 kilometer dari pusat kota Kuningan, Heri (40), seorang pedagang gorengan, mengaku harus menempuh perjalanan lebih dari 10 kilometer menuju pasar di kecamatan untuk mendapatkan gas. Ia menyebutkan bahwa sebelumnya, tabung gas selalu tersedia di pangkalan dekat rumahnya. Namun, saat ini, tabung gas selalu kosong dan harga naik menjadi Rp28.000.
"Biasanya di pangkalan dekat sini selalu ada, tapi sekarang selalu kosong. Kalaupun dapat, harganya sudah naik jadi Rp28.000, kalau nggak beli, saya ngga bisa untuk jualan," keluhnya.
Langkah Pertamina dalam Mengatasi Kelangkaan Gas
Menanggapi situasi ini, Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat langsung mengambil langkah cepat. Melalui pemantauan lapangan dan koordinasi dengan agen resmi, Pertamina memastikan bahwa pasokan gas LPG 3 kg tetap mengalir hingga ke daerah-daerah terpencil.
Eko Kristiawan, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat, menjelaskan bahwa pihaknya telah menambah pasokan untuk wilayah yang dilaporkan mengalami kekurangan, termasuk Kecamatan Cibeureum, Ciangir, dan Cileuleuy. Menurut Eko, Pertamina juga telah menurunkan tim monitoring lapangan dan bekerja sama dengan perangkat desa serta pengusaha pangkalan guna memastikan distribusi berjalan dengan adil.
Selain itu, Pertamina juga mengaktifkan armada mobile refill, yaitu kendaraan pengangkut gas yang berkeliling ke desa-desa pelosok agar warga tidak perlu jauh-jauh ke kota.
Respons Positif dari Masyarakat
Langkah ini disambut baik oleh masyarakat Kuningan. Di Desa Cipedes, Kecamatan Darma, truk pengangkut gas terlihat memasuki jalanan sempit dan terjal dengan sangat hati-hati. Sejumlah warga menunggu di depan pos ronda sambil membawa tabung kosong.
"Alhamdulillah akhirnya datang juga. Biasanya kami harus menunggu sampai seminggu sekali. Sekarang bisa langsung isi di sini," kata Asri (52), warga setempat, sambil tersenyum lega.
Kepala Desa Ciangir, Rahmat, menyampaikan apresiasi atas langkah cepat Pertamina. "Begitu ada keluhan, langsung ada tindak lanjut. Dua hari setelah laporan, truk pengangkut gas langsung datang. Ini sangat membantu warga kami," ujarnya.
Dukungan Pemerintah Daerah
Pemerintah daerah Kuningan juga mendukung langkah Pertamina dengan memastikan pengawasan harga di tingkat pangkalan. Hal ini dilakukan agar subsidi tepat sasaran dan tidak dimanfaatkan oleh oknum penimbun.
Eko Kristiawan menegaskan bahwa kelangkaan yang sempat terjadi hanyalah bersifat sementara akibat keterlambatan distribusi dan meningkatnya permintaan menjelang akhir tahun. "Kondisi sudah berangsur normal. Kami berkomitmen menjaga ketahanan energi hingga ke pelosok. Energi bukan hanya milik kota, tapi juga hak masyarakat desa," tegasnya.
Aroma Masakan Kembali Tercium
Kini, aroma masakan kembali tercium dari dapur warga Desa Cileuleuy. Sri tampak tersenyum saat tabung gas barunya mulai berbunyi pelan. "Sekarang sudah bisa masak cepat lagi. Nggak perlu ngipas tungku setiap pagi," katanya sembari menata panci di atas kompor.
Bagi warga pelosok seperti Sri, keberadaan gas LPG 3 kg bukan sekadar kebutuhan rumah tangga, melainkan simbol dari kehadiran maupun kepedulian negara hingga ke sudut desa. Melalui Pertamina, energi terus mengalir di dapur-dapur sederhana, menyalakan harapan, dan menjaga kehidupan tetap hangat di tengah sejuknya udara Kuningan.
0 Komentar