75 Tahun Hubungan Diplomatik Indonesia-Belgia dan Perjalanan Ir. Soekarno

Featured Image

Pengalaman Menarik dalam Walking Tour Khusus Pahlawanku Teladanku

Pada hari yang khusus, W kembali mengikuti kegiatan walking tour yang spesial. Acara ini digelar oleh Kota Tua Tourism Information Center (KOTIC) dalam rangka memperingati Hari Pahlawan yang jatuh pada 10 November. Tema dari tour kali ini adalah “Pahlawanku Teladanku”, yang menarik perhatian banyak peserta.

Acara dimulai pukul 08.20 WIB setelah para peserta hadir dan melakukan absen menggunakan barcode yang diberikan oleh tim KOTIC. Setelah semua peserta terkumpul, mereka dibagi menjadi lima kelompok dan mulai berjalan menuju halte Transjakarta di sebelah Stasiun Kota untuk naik bus menuju Gedung Arsip Nasional di Gajah Mada.

Saat perjalanan, bus yang tidak begitu padat memberi kesempatan bagi peserta untuk melihat perkembangan pembangunan MRT Jakarta fase II yang membentang dari Bunderan HI hingga Ancol Barat. Di Halte Sawah Besar, peserta harus sedikit berjalan dan menyebrang karena posisi halte berada di tengah jalan.

Setelah tiba di Gedung Arsip Nasional, peserta disambut dengan penjelasan sejarah bangunan tersebut. Bangunan ini awalnya bernama Villa Molenvliet yang dibangun oleh Gubernur Jenderal VOC Reynier de Clerk pada tahun 1760. Arsitektur bangunan mencerminkan gaya Renaissance dan pengaruh Barok Rokoko (Louis XV) yang megah pada masa itu.

Sejarah gedung ini juga menyimpan kisah-kisah menarik. Misalnya, Johannes Sieberg membeli rumah tersebut setelah De Klerk meninggal pada 1780. Ia kemudian menjadi Gubernur Jenderal pada 1801-1805 dan tinggal di sana selama masa pemerintahan Prancis dan Inggris. Dalam sejarahnya, gedung ini sempat berpindah tangan beberapa kali, termasuk kepada Leendert Miero yang merupakan serdadu rendahan Belanda. Keinginannya membeli rumah ini dipicu rasa dendam terhadap pemilik sebelumnya, De Klerk, yang pernah menghukumnya 50 cambukan rotan karena tertidur saat jaga piket.

Setelah kematian Miero, Vila Molenvliet dijual kepada College van der Hervormde Gemeente dan dirombak untuk dijadikan panti asuhan. Saat kami berada di sana, sedang berlangsung pameran 75 tahun hubungan diplomatik antara Indonesia dan Kerajaan Belgia. Dalam pameran ini, terdapat diorama mengenai sejarah hubungan kedua negara, termasuk kunjungan Pangeran Leopold dan Raja Felippe serta Presiden Indonesia ke Belgia.

Selain itu, ada spot yang memuat cerita tokoh jurnalis dengan rambut talang hujan khasnya, yaitu Tintin karya seniman Belgia Herge. Ada juga informasi tentang kunjungan Ratu Astrid ke Borobudur dan Kebun Raya Bogor, bahkan nama Ratu Astrid diabadikan menjadi sebuah jalan di komplek Kebun Raya Bogor pada 1928.

Setelah melihat pameran, peserta diajak melihat lantai atas gedung arsip nasional. Di sana terdapat ruang pribadi dari Reyneir de Clerk, seperti ruang rapat, ruang makan, dan tempat tidur. Terdapat banyak foto peta Batavia dan pulau Jawa yang menjadi target para saudagar VOC. Bahkan ada dua foto diri Reyneir de Clerk yang membuat salah satu peserta tertawa karena sosoknya agak gemoy.

Setelah turun, peserta kembali ke ruang tengah dan beranjak ke arah belakang bangunan baru yang memuat perjalanan hidup Ir Soekarno. Gedung berlantai 4 ini menyajikan perjalanan hidup dan politik Ir Soekarno dari masa kecil hingga akhir hayatnya. Tiap lantai memiliki data diri, surat-surat, dan foto-foto penting, termasuk surat cinta Ir Soekarno kepada Ratna Sari Dewi dari Jepang.

Di dalam gedung juga terdapat maket rencana pembangunan awal ibu kota Jakarta, termasuk istana merdeka, Monas, Masjid Istiqlal, Gereja Katedral, DPR, TVRI, Komplek Gelora Bung Karno, dan jembatan Semanggi. Selain itu, terdapat foto Ir Soekarno bersama tokoh dunia seperti Mao Zedong, Joseph Broz Tito, dan Jawaharlal Nehru.

Setelah berkeliling, peserta melakukan diskusi kelompok. Ada yang berpendapat bahwa pola pikir Ir Soekarno tidak relevan dengan saat ini, terutama karena memiliki banyak istri. Namun, dari segi nasionalisme dan semangat berpidato, ia tetap menjadi contoh yang baik bagi anak muda.

Setelah presentasi dari lima kelompok, acara berakhir. Peserta pun kembali ke Stasiun Jakarta Kota dengan menumpang bus Transjakarta. Terima kasih kepada Tur Guide Ka Gilang, Ka Sunny, Ka Ichsan, Ibu Indira, dan kaka anak magang KOTIC yang tak terlupakan. Sampai jumpa di tulisan berikutnya.

0 Komentar