
Bencana Banjir di Aceh: Dampak yang Menyentuh Hati dan Membawa Perubahan
Pada siang hari, setelah salat Jumat pada 5 Desember 2025, saya berencana untuk makan siang di sebuah warung kecil dekat rumah. Namun, makanan hampir habis karena warung tersebut ramai dikunjungi orang setelah salat Jumatan. Saya sedikit terlambat, sehingga harus menunggu sebentar. Ketika saya akhirnya duduk untuk makan, ada seorang perempuan yang juga sedang mencari tempat duduk. Ia adalah seorang karyawan apotek yang nasibnya sama dengan saya—hanya mendapatkan mi goreng dan lauk hati ampla.
“Masih untung saya bisa makan teratur. Bagaimana dengan keluarga saya di Aceh? Saya sudah seminggu tidak bisa menghubungi orang tua, tapi alhamdulillah akhirnya dapat kabar bahwa mereka selamat,” ujar perempuan itu dengan logat Aceh yang kental.
Aceh adalah salah satu provinsi yang paling terdampak oleh banjir besar di Sumatera. Bencana ini mengingatkan banyak warga Aceh akan pengalaman mereka saat tsunami pada 26 Desember 2004. Banjir kali ini juga memberikan dampak yang luar biasa, baik secara fisik maupun psikologis.
Saya berhasil menghubungi seseorang yang pernah menjadi narasumber ketika saya bekerja di Majalah Peluang. Ia adalah Idawati, seorang pengusaha produk bordir khas Aceh yang tinggal di kawasan Batuphat Timur, Kota Lhok Seumawe. Daerah tersebut mengalami banjir selama tiga hari, yaitu pada 26, 27, dan 29 November 2025. Setengah dari penduduk Batuphat Timur terkena dampak banjir.
“Rumah saya terendam air, begitu juga tempat usaha saya bersama belasan ibu-ibu lainnya. Beberapa mesin rusak karena terendam air, meskipun tidak semua. Saya sempat mengungsi bersama keluarga ke Meunasah Gampong,” cerita Idawati.
Idawati dan para ibu-ibu yang terdampak bencana harus membangun kembali tempat usaha mereka yang rusak. Meski kondisi masih sulit, ia tetap bertekad untuk tidak berhenti sebagai wiraswasta. Saat ini, usahanya hanya berhenti sementara karena belum ada pesanan. Namun, masih ada mesin yang tidak rusak dan stok kain yang tersisa.
“Saya masih sangat butuh mesin bordir karena beberapa rusak. Jika ada yang ingin membantu, saya sangat berterima kasih,” tambahnya.
Stasiun Penelitian Orangutan Terkena Dampak Banjir
Tidak hanya wilayah pemukiman yang terdampak, namun juga daerah-daerah yang memiliki nilai ilmiah dan lingkungan. Salah satunya adalah Stasiun Penelitian Orangutan Ketambe di Gunung Leuser. Relawan lingkungan dari Forum Konservasi Leuser (FKL) dan lembaga-lembaga terkait seperti PPA, Kementerian Kehutanan, dan WWF tidak pernah membayangkan bahwa stasiun ini akan terkena dampak banjir dan longsor.
Stasiun penelitian ini telah menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia sejak 1971. Berbagai peneliti ternama seperti Herman D. Rijksen, Prof. Yatna Supriyatna, Dr. Suci Utami Atmoko, dan Barita Manullang pernah melahirkan karya-karya penting di sini.
Pada 26 November 2025, seorang staf dan tukang ledeng sedang melakukan pembangunan musala baru. Tiba-tiba mereka terkejut melihat debit air sungai meningkat drastis. Pada tengah hari, staf membuat penghalang agar air tidak masuk ke dapur. Sekitar pukul 13.15, barang-barang mulai dipindahkan ke tempat yang lebih tinggi. Namun, sore hari menjelang pukul 16.00, air terus meningkat hingga memaksa juru masak dan tukang dievakuasi ke Desa Ketambe.
Keesokan harinya, 27 November 2025, staf kembali memeriksa kondisi stasiun dan menemukan bahwa hampir seluruh sarana dan prasarana telah hanyut. Mulai dari kamar tidur peneliti, ruang pertemuan, fasilitas air bersih, musala, dapur umum, kereta gantung penyeberangan, hingga ruang pustaka hancur.
Kementerian Kehutanan menyatakan rasa syukur bahwa empat staf yang ada di sana selamat. Namun, stasiun ini sementara ditutup untuk evaluasi. Ini menjadi duka bagi dunia ilmiah, karena stasiun ini telah melahirkan banyak peneliti orangutan yang berkontribusi besar dalam penelitian dan konservasi.
Upaya Bantuan Darurat dan Rehabilitasi
Ketua FKL Muhammad Isa mengatakan bahwa saat ini fokus utama adalah memberikan bantuan darurat kepada masyarakat terdampak. “Setelah ini kita akan berupaya untuk rehab kembali,” kata Isa ketika saya hubungi pada 4 Desember 2025.
Dua cerita ini menggambarkan bahwa dampak bencana banjir tidak hanya terbatas pada korban jiwa dan kerusakan harta benda, tetapi juga mengubah hidup banyak orang. Dari usaha kecil hingga stasiun penelitian ilmiah, semuanya terkena dampak. Ini menunjukkan betapa pentingnya persiapan dan mitigasi bencana serta dukungan komunitas dalam proses pemulihan.
0 Komentar