
Perjalanan Tim Ekspedisi Nusaraya di Dusun Baban Timur, Jember
Tim Ekspedisi Nusaraya gubukinspirasi.id telah tiba di Dusun Baban Timur, Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Di lokasi ini, terdapat banyak warga miskin ekstrem yang tinggal di lahan milik Perhutani. Mereka menggantungkan hidup pada kawasan hutan dengan melakukan pengelolaan lahan melalui skema agroforestri.
Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Jember, sebanyak 83.829 jiwa warga miskin ekstrem tinggal di area Perhutani. Dari jumlah tersebut, 11.832 jiwa berada di Kecamatan Silo, yang menjadi wilayah dengan jumlah warga miskin ekstrem terbesar dibandingkan kecamatan lainnya.
Salah satu warga miskin ekstrem di lahan Perhutani adalah Saniman (65). Ia tinggal bersama istrinya, Gira (62), di Dusun Baban Timur. Sayangnya, Gira tidak bisa beraktivitas karena mengidap stroke sejak 9 tahun lalu. Nasib mereka menjadi pertanyaan besar dalam konteks kemiskinan ekstrem di kawasan hutan.
Tanggung Jawab Perhutani dalam Penanganan Kemiskinan
Administratur atau Kepala Kesatuan Pemangku Hutan (KKPH) Perhutani Jember, Eko Teguh Prasetyo, menjelaskan bahwa secara regulasi, pengentasan kemiskinan bukanlah tugas utama Perhutani. Namun, ia menekankan bahwa Perhutani tetap siap berkolaborasi dengan pemerintah daerah dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Perhutani itu terkait dengan kemiskinan sebenarnya bukan tanggung jawab Perhutani, tetapi kami siap berkolaborasi dengan pemerintah daerah,” ujar Eko saat diwawancara.
Menurut Eko, Perhutani telah menerapkan beberapa kebijakan untuk mendukung peningkatan taraf hidup masyarakat melalui skema kemitraan kehutanan, yang sebelumnya dikenal sebagai Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM). Melalui skema ini, masyarakat diizinkan menggarap lahan negara secara agroforestri dengan menanam kopi, palawija, dan tanaman lain yang bersinergi dengan tegakan hutan.
“Masyarakat tetap bisa mengelola kawasan hutan bersinergi dengan tanaman kehutanan Perhutani,” tambah Eko.
Meski demikian, Eko mengakui bahwa masih ada banyak warga desa hutan yang hidup di bawah garis kemiskinan ekstrem. Ia juga menyatakan bahwa perlu adanya penguatan program perhutanan sosial agar benar-benar menyentuh warga miskin ekstrem.
“Harapannya setiap masyarakat itu mendapatkan hak kelola di hutan dengan skema perhutanan sosial, terutama bagi yang benar-benar miskin,” kata Eko.
Peran Pemerintah Daerah dalam Mengatasi Kemiskinan Ekstrem
Di tengah tantangan kemiskinan ekstrem di kawasan hutan, Bupati Jember Muhammad Fawait menegaskan bahwa pemerintah kabupaten tidak akan diam. Menurutnya, banyak program bantuan pemerintah yang sebenarnya menyasar petani, namun bantuan tersebut tidak bisa menyentuh warga miskin ekstrem di lahan hutan karena mereka tidak memiliki lahan sendiri.
“Yang bikin kami bingung adalah, petani itu punya lahan, sementara buruh tani tidak, dan banyak dari mereka tinggal di pinggir lahan milik BUMN,” ujarnya.
Fawait menegaskan bahwa pemerintah daerah akan merancang program khusus untuk warga miskin ekstrem yang tinggal di kawasan hutan. Beberapa langkah yang direncanakan antara lain pelatihan untuk membentuk UMKM baru dan pelatihan untuk menjadi calon pekerja migran Indonesia.
“Ke depan kami akan pikirkan mereka, kami akan melakukan pelatihan, melatih mereka jadi UMKM baru, bahkan mungkin melatih mereka juga untuk menjadi calon pekerja migran Indonesia,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa kemiskinan ekstrem tidak bisa hanya dibebankan pada satu institusi. Butuh kerja sama lintas lembaga, baik daerah maupun pusat, untuk mengatasi masalah ini.
“Kalau saya boleh menyimpulkan, ini tanggung jawab kita semua, ada yang menjadi tanggung jawab kabupaten, tapi ada juga tanggung jawab pemerintah pusat,” tegas Fawait.
Fawait juga membuka angka kemiskinan di Jember yang disebut tertinggi di Jawa Timur. Ia berkomitmen untuk mengentaskan kemiskinan ekstrem tersebut.
“Bagi saya, kami buka ini karena kami ingin mengatasi mereka, diibaratkan seorang dokter hanya bisa mengobati kalau tahu penyakitnya, dan Jember ini sakit terkait masalah miskin ekstrem tertinggi se Jawa Timur,” ujarnya.
Artikel ini merupakan bagian dari perjalanan tim Ekspedisi Nusaraya gubukinspirasi.id di Kabupaten Jember, mulai dari 27 November hingga 2 Desember.
0 Komentar