
Sejarah Kelam dan Kontras Makam Banyusumurup dengan Pemakaman Raja-raja Mataram
Makam Banyusumurup adalah salah satu tempat pemakaman yang memiliki makna sejarah penting dalam kisah Mataram Islam. Berbeda dengan pemakaman raja-raja yang megah dan terawat, makam ini menyimpan kisah kelam yang berkaitan dengan pemberontakan, pengkhianatan, dan konflik politik di masa lalu.
Pemakaman Banyusumurup berada di Dusun Banyusumurup, Girirejo, Imogiri, Bantul. Lokasinya tidak jauh dari Pemakaman Raja-raja Mataram Imogiri, namun suasana di sini jauh lebih sederhana dan sepi. Hal ini karena makam ini digunakan sebagai tempat pemakaman bagi mereka yang dianggap sebagai musuh oleh penguasa Mataram pada masa lalu.
Salah satu tokoh yang dimakamkan di sini adalah Pangeran Pekik. Ia merupakan salah satu penghuni awal makam ini, yang kemudian menjadi nama resmi kompleks pemakaman tersebut. Pangeran Pekik adalah ipar Sultan Agung dan dituduh terlibat dalam konspirasi pembunuhan Amangkurat I bersama Trunojoyo dan Raden Kajoran. Meski tuduhan ini diduga sebagai fitnah untuk menghilangkan lawan politik Amangkurat I, Pangeran Pekik dan keluarganya akhirnya dihukum mati pada 21 Februari 1659.
Di antara 52 nisan yang ada di Banyusumurup, terdapat 32 yang berkaitan dengan Pangeran Pekik. Beberapa di antaranya adalah:
- Pangeran Pekik
- Ratu Pandansari
- Putra Raja yang masih kecil
- Pangeran Lamongan
- RAy Tyutang
- RAy Kleting Wulung
- RAy Jambul
- KGP Timur
- Pangeran Demang
- Ratu Lembah
- Raden Kertonegoro
- Singolesono
- Martapuro
- Kertonadi
- Wongsokusumo
- Jagaraga
- Cokronogoro
- Singorowo
- Janarutro
- Tomo Pawiro Tarung Hangggajoyo
- Raden Tondo
- Raden Lamongan
- Kertopuro
- Koryonegoro
- Wirokusumo
- Irawongso
- Wongsocitro
- Wirosari
- Aryo Kusumo Atmojo Kusumo
Selain Pangeran Pekik, ada juga tokoh-tokoh lain yang dimakamkan di sini. Salah satunya adalah Roro Oyi, putri asal Surabaya yang direncanakan untuk dipinang Amangkurat I antara 1668-1670. Namun, di tengah jalan, dia malah jatuh cinta dengan putranya sendiri. Selain itu, ada juga Raden Ronggo Prawirodirjo III yang didakwa berontak terhadap Belanda pada tahun 1810. Makamnya kemudian dipindahkan ke Magetan.
Tidak hanya itu, ada juga Danurejo II yang dihukum mati di Yogyakarta pada 28 Oktober 1811 karena dituduh bersekongkol dengan Belanda. Kemudian, makamnya dipindahkan ke Mlangi pada 1865. Di sampingnya juga terdapat makam istri Danurejo II, Maduretno.
Raden Tumenggung Danukusumo, ayah dari Danurejo II, juga dimakamkan di sini setelah dihukum gantung saat diasingkan ke Pacitan pada 15 Januari 1812. Sementara itu, Pangeran Joyokusumo I dan putranya Joyokusumo II serta Atmokusumo, yang berpihak pada Pangeran Diponegoro, tewas di Kelurahan Sengir, Kulon Progo, pada 21 September 1829. Kepala mereka dipenggal oleh Tumenggung Cokrojoyo dan dibawa ke Jenderal De Kock di Magelang. Kepalanya dikuburkan di Banyusumurup, sedangkan tubuhnya dikebumikan di Sengir.
Struktur dan Fasilitas Pemakaman Banyusumurup
Pemakaman Banyusumurup terdiri atas dua bagian: halaman I dan halaman II. Setiap bangunan dikelilingi tembok bata berbentuk persegi panjang. Halaman I memiliki ukuran panjang 37 meter, lebar 24 meter, dan tinggi 2,75 meter. Di sini terdapat regol yang tingginya sampai ujung atap. Regol ini selalu ditutup dan hanya dibuka ketika ada peziarah yang datang. Di halaman I, terdapat 25 makam seperti Pangeran Pekik, Rara Oyi, dan lain sebagainya.
Sementara itu, halaman II memiliki ukuran panjang 20,3 meter, lebar 19,5 meter, dan ukuran regol sama dengan halaman I. Lokasinya berada di luar halaman I, tepatnya di sisi selatan bagian barat. Di sini terdapat dua bangunan yang disebut bale panyerenan, yaitu tempat untuk meletakkan jenazah sebelum dimakamkan dan tempat menunggu para peziarah.
0 Komentar