
Perhutani Jember Klaim Warga Sejahtera, Tapi Realita di Lapangan Berbeda
Administratur Perhutani Jember, Eko Teguh, menyatakan bahwa masyarakat di Dusun Baban Timur, Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember, Jawa Timur, kini sudah sejahtera. Ia menilai bahwa hasil pertanian kopi dan kerja sama dalam pengelolaan hutan menjadi faktor utama keberhasilan ini.
“Sebenarnya, kalau mau jujur masyarakat itu sekarang sudah sejahtera,” ujarnya saat dihubungi. Menurutnya, banyak warga yang tinggal di sekitar hutan kini bisa merasakan kesejahteraan melalui hasil panen kopi yang stabil. Perhutani memberikan ruang untuk berkebun dengan sistem agroforestri atau pengelolaan hutan bersama masyarakat.
Dari satu hektare lahan, warga rata-rata bisa memanen sekitar satu ton kopi per tahun. Harga kopi yang mencapai Rp 65.000 per kilogram menjadi pendorong utama. Dengan pendapatan tersebut, warga bisa menghasilkan sekitar Rp 65 juta setahun, yang berarti lebih dari Rp 5 juta per bulan.
Namun, Eko juga mengakui bahwa masih ada sebagian warga yang masuk kategori miskin ekstrem. Menurutnya, kelompok ini bukanlah warga lama yang tinggal di kawasan sekitar hutan, melainkan para pendatang. “Mereka bukan warga asli Jember,” katanya.
Kolaborasi Penting dalam Pengentasan Kemiskinan
Eko menekankan bahwa pengentasan kemiskinan tidak hanya tanggung jawab Perhutani, tetapi juga perlu kolaborasi dari berbagai pihak seperti PTPN dan pemerintah daerah. Perhutani siap bekerja sama dalam pemetaan kondisi lapangan maupun program-program sosial pemerintah.
Selain skema kemitraan, Perhutani juga menyalurkan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) kepada warga desa sekitar hutan. Bantuan ini diberikan berdasarkan permohonan dari pemerintah desa. Bentuk bantuan mencakup pembangunan saluran air, perbaikan fasilitas sekolah, serta infrastruktur lain yang mendukung aktivitas ekonomi warga.
Kondisi Nyata di Lapangan Berbeda
Meski klaim sejahtera terdengar optimis, realita di lapangan menunjukkan kondisi yang berbeda. Di Dusun Baban Timur, banyak warga masih hidup dalam kemiskinan ekstrem. Angka kemiskinan di wilayah ini sangat tinggi, dengan 105.872 jiwa tercatat sebagai miskin ekstrem dan total penduduk miskin mencapai 222.254 jiwa.
Salah satu contohnya adalah Saniman (65), yang tinggal di gubuk sederhana di tengah kawasan Perhutani. Rumahnya memiliki atap yang sering bocor dan listrik hanya tersedia dari panel surya kecil. Ia juga merawat istrinya, Gira (68), yang mengalami stroke sejak dua tahun lalu.
Akses menuju dusun ini sangat sulit. Jalan sempit dan licin, permukaan tanah tidak rata, serta tanjakan curam membuat perjalanan melelahkan. Beberapa titik bahkan berubah menjadi kubangan lumpur setelah hujan. Jalur ini melewati area PTPN I Regional V sebelum masuk ke wilayah Perhutani.
Kontras Antara Klaim dan Realita
Kisah warga seperti Saniman menunjukkan kontras antara gambaran "sejahtera" yang sering disampaikan oleh perusahaan dan kenyataan di lapangan. Masalah dasar seperti akses layanan kesehatan, infrastruktur, dan kualitas hidup masih menjadi tantangan besar bagi masyarakat di wilayah ini.
Artikel ini merupakan bagian dari perjalanan tim Ekspedisi Nusaraya gubukinspirasi.id di Kabupaten Jember, mulai dari 27 November hingga 2 Desember.
0 Komentar