
Awal Mula Rencana Pembangunan Kampung Haji di Arab Saudi
Dalam sebuah kesempatan, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Perkasa Roeslani, berbagi kisah tentang awal mula rencana pembangunan Kampung Haji di Arab Saudi. Cerita ini disampaikan dalam sambutan penutup Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) 2025 Kadin Indonesia. Rosan mengatakan bahwa ia merasa cukup lama berbicara, namun akhirnya meminta izin kepada Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, untuk berbagi cerita yang menarik.
Rosan menjelaskan bahwa cerita tentang Kampung Haji ini pertama kali dibagikan secara terbuka. Dengan sedikit tertawa, ia mengaku butuh doa dari peserta Rapimnas 2025 Kadin Indonesia. Menurutnya, awal mula cerita ini adalah ketika dirinya mendampingi Presiden ke Arab Saudi pada bulan Mei. Saat itu, Presiden menyampaikan keinginan untuk memiliki Kampung Haji di Tanah Suci Makkah dan Madinah.
Permintaan Prabowo Bikin Pangeran Arab Ubah Undang-Undang
Rosan melanjutkan ceritanya dengan mengatakan bahwa permintaan tersebut disampaikan oleh Presiden Prabowo saat siang hari. Tidak lama setelah itu, pada malam harinya, ia mendapatkan momen tak terduga. Dalam undangan makan malam, Pangeran Muhammad bin Salman menyampaikan persetujuannya untuk memberikan Kampung Haji di Arab Saudi.
Namun, pihak kerajaan menyatakan perlu mengubah undang-undang terlebih dahulu. Akhirnya, undang-undang tersebut diubah pada Juli 2025, yang berlaku mulai Januari 2026. Dengan adanya perubahan ini, institusi asing diperbolehkan memiliki tanah di Makkah atau Madinah. Rosan menyampaikan bahwa kemungkinan besar undang-undang ini berubah karena masukan dari Presiden Prabowo. Ia juga menyebutkan bahwa pihaknya dihubungi untuk melakukan proses selanjutnya, termasuk bertemu dengan otoritas RCMC (Royal Commission for Makkah City and Holy Sites).
Pemerintah Diminta Lakukan Bidding
Rosan menduga bahwa pemerintah akan diminta untuk membeli lahan di Arab Saudi. Namun, dugaannya meleset karena justru diberi tugas untuk melakukan bidding terhadap lahan yang disediakan. Dalam ceritanya, Rosan mengatakan bahwa pemerintah diberikan delapan plot lahan oleh RCMC, dan akhirnya memilih plot nomor enam.
Plot ini diketahui sebagai yang paling favorit karena kondisi tanahnya relatif rata dan agak kosong. Lahan-lahan lainnya lebih berbatu, sehingga membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat tahun untuk menguras batu-batu tersebut. Selain itu, jika ada bangunan seperti hotel atau gedung, maka perlu dilakukan negosiasi terlebih dahulu, yang memakan waktu.
Lahan yang dipilih berjarak hanya 1,5 sampai 2 kilometer dari Masjidil Haram. Biasanya, jemaah haji Indonesia tinggal dalam jarak 4,5 sampai 6 kilometer dari tempat tersebut.
Penawaran Sudah Masuk ke RCMC pada 30 Oktober 2025
Penawaran untuk lahan tersebut telah disampaikan ke RCMC pada 30 Oktober 2025. Menurut Rosan, penawaran ini berbeda dengan sistem di Indonesia. Di Arab Saudi, harga penawaran sudah ditentukan, sehingga tidak bisa dinaikkan atau diturunkan. Yang menjadi penentu adalah master plan dan desain yang diajukan.
Plot nomor enam, yang dipilih oleh pemerintah, berada di daerah Eastern Hindawiyah. Ada sekitar 90 bidder yang ikut dalam penawaran ini. Informasi terbaru menyebutkan bahwa pemerintah berada di tiga besar.
Lahan yang ditawarkan memiliki luas 84 hektare dan berada dekat dengan proyek Masar Makkah. Rosan berharap agar semua pihak memberikan doa restu agar pemerintah dapat mendapatkan lahan tersebut. Ia juga menyampaikan bahwa hasil bidding akan diumumkan akhir bulan Desember. Dengan demikian, semoga harapan berdirinya Kampung Haji dapat terwujud.
0 Komentar