
Menghidupkan Suara Bambu: Pelestarian Tradisi Foi Doa di Masyarakat Ngada
Foi Doa bukan sekadar alat musik, melainkan simbol kearifan dan identitas masyarakat Ngada. Bunyi lembut dari dua batang bambu yang disatukan itu mengandung makna mendalam. Setiap nada yang dihasilkannya adalah suara tanah, suara rumah, dan suara jati diri. Dulu, Foi Doa mengiringi syair-syair tradisional, menceritakan kisah-kisah leluhur, serta mengekspresikan perasaan suka dan duka. Suara itu seperti bisikan alam yang akrab bagi telinga orang-orang Ngada.
Sebagai putera Sarasedu, saya selalu teringat pada kehadiran Foi Doa dalam kehidupan sehari-hari. Alat musik ini tidak hanya menjadi bagian dari ritual adat, tetapi juga menjadi penghubung antara generasi lama dan muda. Namun, kini tantangan untuk melestarikannya semakin besar. Kehilangan tokoh-tokoh seperti Daniel Watu, yang dikenal sebagai penjaga tradisi, meninggalkan kekosongan yang harus diisi oleh generasi penerus.
Daniel Watu bukan hanya piawai memainkan Foi Doa, tetapi juga menjadi guru yang mengajarkan cara memilih bambu, meraut, menyatukan tabung, dan meniup hingga menghasilkan harmoni khas. Banyak anak muda belajar langsung darinya, bukan hanya soal musik, tetapi juga tentang cinta pada tradisi. Kehilangannya mengajukan pertanyaan penting: siapa yang akan meneruskan tradisi ini?
Adik-adik Daniel Watu, yaitu Petrus Su’u, Emanuel Ngabi, Dominikus Sabu, Frederikus Gadhi, dan Frederikus Mite, berusaha melanjutkan warisan tersebut. Mereka membuat Foi Doa, mengajar, dan menjaga tradisi keluarga tetap hidup. Meski demikian, pelestarian budaya seperti ini membutuhkan perhatian yang lebih terstruktur.
Proses pembuatan dan cara memainkan Foi Doa perlu dicatat dan direkam agar tidak hilang bersama generasi lama. Inovasi, digitalisasi, dan kolaborasi dengan komunitas adat sangat penting untuk menjaga relevansi musik tradisional di era modern. Penelitian Sulistyan dkk. (2025) tentang pelestarian kesenian Jaranan memberikan pelajaran berharga. Salah satu pelajaran utamanya adalah pentingnya regenerasi generasi muda melalui proses belajar yang terarah dan tetap berbasis pengalaman langsung.
Anak-anak Sarasedu perlu dilibatkan dalam proses membuat, meraut, dan meniup Foi Doa, sehingga mereka memahami tradisi ini tidak hanya sebagai keterampilan, tetapi sebagai bagian dari identitas. Tradisi akan bertahan jika komunitas merasa memiliki dan menghidupkannya dari hari ke hari.
Selain itu, sanggar Jaranan menunjukkan bahwa pelestarian tidak memerlukan struktur organisasi yang kaku. Yang dibutuhkan justru kepemimpinan yang komunikatif, ruang belajar yang fleksibel, dan iklim yang membuat generasi muda merasa dihargai. Foi Doa pun dapat dirawat dengan cara yang sama — menciptakan ruang latihan yang hangat, terbuka, dan penuh dialog, sehingga anak-anak dan kaum muda merasa nyaman belajar tanpa kehilangan rasa hormat pada tradisi.
Pelajaran lainnya adalah bahwa tradisi hanya bisa hidup jika terus dimainkan, diajarkan, dan dibawa ke dalam kehidupan sehari-hari. Jaranan bertahan karena para pelakunya memainkannya secara rutin, bukan hanya di acara besar. Begitu pula Foi Doa: semakin sering ia hadir di rumah, di sekolah, di ladang, dan dalam pertemuan adat, semakin kuat ia berakar di hati generasi muda.
Dengan menggabungkan dokumentasi pengetahuan, inovasi budaya, penguatan komunitas, dan pengembangan sumber daya manusia yang terarah, pelestarian Foi Doa menjadi lebih kokoh. Ini bukan sekadar sentimentalitas terhadap masa lalu, tetapi strategi nyata untuk memastikan bahwa suara bambu ini mampu menembus perubahan zaman.
Tradisi hanya hidup jika ada orang yang merawatnya. Daniel Watu telah memberikan kontribusi besar. Kini, tongkat estafet itu ada di tangan generasi penerus, termasuk adik-adiknya. Mereka tidak boleh berjalan sendirian. Kita semua punya tanggung jawab moral dan kultural untuk menjaga suara bambu ini tetap terdengar.
Di tengah derasnya arus musik digital dan budaya instan, Foi Doa mengingatkan kita bahwa budaya adalah akar. Tanpa akar, pohon tak akan berdiri. Tanpa budaya, kita kehilangan identitas. Selama masih ada tangan yang meraut bambu, napas yang meniupnya, dan komunitas yang peduli serta terorganisir, Foi Doa akan terus bernyanyi. Tugas kita adalah memastikan suaranya terdengar lebih luas — di rumah, di desa, di sekolah, dan di panggung yang lebih besar. Semoga suara bambu Sarasedu tetap menjadi suara masa depan.
0 Komentar