
Warga Terisolir di Bener Meriah Berjuang untuk Mendapatkan Bantuan
Rahmansyah, seorang warga Desa Arul Gading, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, berjalan kaki selama delapan jam untuk mencari bantuan makanan. Ia dan tiga pemuda lainnya datang ke posko Badan Penanggulangan Bencana (Baguna) PDI Perjuangan di Kabupaten Bireuen. Mereka membutuhkan beras karena sudah dua hari tidak ada makanan.
Kondisi yang mereka alami sangat memprihatinkan. Di tempat tinggal mereka, beras tidak tersedia. Mereka hanya bisa bertahan dengan makanan sisa. “Kami butuh beras, Pak. Intinya beras, Pak. Kami dua hari tak ada makanan. Banyak yang kelaparan,” ujar Rahmansyah dengan penuh harapan.
Akses menuju wilayah mereka terputus akibat banjir yang melanda. Bantuan logistik tidak dapat menjangkau daerah tersebut. Untuk sampai ke Bireuen, mereka harus melewati beberapa jembatan yang rusak, lalu menggunakan ojek dan menyewa sampan untuk menyeberang. Jembatan penghubung antara Bener Meriah dan Bireuen benar-benar putus total, sehingga warga terpaksa menggunakan jalur darurat seperti sampan atau jembatan penyeberangan darurat yang digantung di tali.
“Kami menggunakan uang masjid untuk perjalanan ke sini [Bireuen]. Banyak yang kelaparan di sana,” kata Rahmansyah. Meskipun mereka bisa membeli beras, tetapi tidak ada stok yang tersedia. Bahkan, jika ada, harganya sangat mahal karena adanya mark up yang signifikan.
Rahmansyah menyebutkan bahwa sekitar 500 jiwa terisolir di wilayahnya. Mereka tidak mendapatkan distribusi logistik sama sekali. Akses keluar juga terputus. Dengan risiko besar, ia dan teman-temannya berani berjalan dari dusun pukul 07.00 dan tiba di Bireuen sekitar pukul 15.00 WIB.
Perjalanan yang biasanya hanya memakan waktu satu setengah jam menjadi delapan jam karena kondisi jalan yang rusak. Di tempat tinggal mereka, listrik mati dan sinyal telepon sulit ditemukan. Untuk penerangan, mereka hanya mengandalkan lampu teplok.
Permohonan bantuan Rahmansyah dan kawan-kawannya disambut baik oleh DPD PDIP Aceh. Mereka memberikan bantuan berupa puluhan sak beras isi 15 kilogram, susu bayi, telur, dan makanan cepat saji lainnya untuk persediaan 500 jiwa.
Rahmansyah memang berjudi dengan mendatangi Baguna PDIP. Ia tidak tahu apakah beras akan tersedia di posko tersebut atau tidak. Namun, dengan kontak yang telah disebarkan oleh Baguna Aceh, ia nekat berjalan ke Bireuen. Baginya, ini adalah pilihan terbaik dibandingkan mati kelaparan.
Ketua DPD PDI-P Aceh, Jamaluddin Idham, menyebarkan kontak bantuan bencana ke seluruh wilayah terdampak di Aceh, khususnya daerah-daerah yang belum terjamah bantuan. “Kami memang menyebarkan kontak bantuan bencana ke seluruh wilayah terdampak di Aceh. Bila memungkinkan dan wilayahnya bisa diakses, kami usahakan untuk mengantarkan langsung kebutuhan mereka. Bila wilayahnya tidak bisa diakses, kami mencari jalan untuk pengiriman dan distribusi,” katanya.
Kondisi Aceh per 2 Desember 2025 masih membutuhkan bantuan. Banjir sudah mulai surut, tetapi beberapa wilayah terdampak masih minim bantuan logistik karena akses terputus. Beberapa kawasan hanya bisa dijangkau melalui akses udara, seperti di Aceh Tengah, Tamiang, dan Bener Meriah.
Beberapa desa di Bireuen juga masih minim bantuan. Salah satunya adalah wilayah terdampak banjir bandang di Kecamatan Jangka. Di sana, warga masih membutuhkan bantuan, terutama persediaan makanan dan pakaian. Isi rumah dan pakaian mereka tersapu banjir. Yang tersisa hanya sehelai baju di badan.
0 Komentar