
Kehidupan yang Hancur oleh Banjir
Pengalaman Menyedihkan dalam Kehidupan Muhammad Sayuti
Muhammad Sayuti (20), seorang mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam di UIN SUNA Lhokseumawe, mengalami pengalaman paling menegangkan dalam hidupnya. Rumah berkonstruksi beton yang selama ini menjadi tempat tinggalnya bersama orang tua dan adiknya menjadi saksi kepanikan terbesar dalam hidupnya.
Pada Rabu sore, 26 November 2025, Sayuti baru saja selesai menyimpan hasil panen padi bersama ayahnya, Ismail (57), ibunya, Faridah (51), serta adiknya, Farid Aulia (18), siswa kelas III MAN. Mereka berhasil menyelamatkan 27 karung padi ke dalam rumah. Dari jumlah tersebut, 21 karung disimpan di kamar depan dan 6 karung di kamar yang lebih tinggi.
Menjelang pukul 21.00 WIB, setelah lelah memindahkan hasil panen agar tidak terendam, mereka sempat beristirahat sejenak. Di luar, hujan masih mengguyur tanpa jeda. Tak lama kemudian, air di halaman rumah dan di jalan mulai meninggi. Sayuti mengajak keluarganya untuk mengungsi ke meunasah, tetapi air lebih dulu menerobos masuk ke rumah melalui jendela kamar depan.
Arusnya begitu deras. Dalam hitungan menit, seluruh kamar berubah menjadi genangan. Tidak satu pun dari hasil panen itu sempat diselamatkan. Mereka bergegas berpindah ke kamar yang lebih tinggi, tempat enam karung padi disimpan. Rasa aman itu hanya bertahan sebentar. Air kembali naik dengan cepat hingga merendam kamar setinggi hampir dua meter dari halaman rumah.
Tak ada lagi pilihan bagi Sayuti dan keluarganya selain naik ke atap rumah untuk menyelamatkan dirinya dan keluarga. Karena tak ada tangga menuju plafon, enam karung padi disusun sebagai pijakan darurat. Setelah ayah, ibu, dan adiknya naik, Sayuti menyusul.
Sejak Kamis (27/11/2025) pukul 03.00 WIB hingga Jumat (28/11/2025) pagi sekitar pukul 09.00 WIB, mereka bertahan di plafon rumah. Dua hari dua malam, tanpa sebutir nasi dan minum. Mereka terus berpegangan satu sama lain agar tidak terjatuh, karena ayunan air dari bawah terasa sangat kencang.
Dalam gelap, mereka hanya bisa bermunajat agar rumah mereka cukup kuat menahan terjangan banjir. Hujan tak juga mereda. Angin memukul-mukul atap rumah. Air di bawah mereka mengaduk semua yang pernah mereka miliki. Kadang terdengar suara benda pecah. Kadang jeritan dari rumah tetangga. Kadang hanya sunyi-sunyi yang justru membuat tubuh semakin gemetar.
Di luar, listrik padam total. Sinyal telepon seluler juga lenyap. Dunia seolah terputus dari mereka. Selama ini tidak pernah banjir seperti ini. Biasanya hanya di halaman rumah saja, jadi mereka tidak pernah bersiap. Pagi Jumat, saat air sedikit surut, mereka turun sejenak untuk mengambil sisa makanan—pisang dan mentimun, lalu kembali naik ke plafon karena khawatir air kembali meninggi.
Sekitar pukul 10.00 WIB, suara tetangga memanggil dari luar rumah. Dengan berpegangan pada tali yang diikat agar tak terseret arus yang masih setinggi leher orang dewasa, mereka satu per satu dievakuasi. Sayuti dan keluarganya mengungsi di rumah tetangga selama dua malam.
Baru pada Minggu (30/11/2025) mereka memberanikan diri kembali untuk membersihkan rumah yang seluruh lantainya dipenuhi lumpur. Namun yang tersisa bukan lagi kehidupan seperti sebelumnya. 13 ekor kambing, tiga ekor sapi, kandang ternak, serta seluruh isi rumah ikut hanyut. Semua barang basah dan rusak. Laptop serta draf proposal skripsi juga hilang. Dua sepeda motor yang selama ini menopang aktivitasnya ikut rusak terendam banjir.
Hingga kini belum sempat diperbaiki karena mereka masih berjuang membersihkan rumah. Meski demikian, Sayuti memilih tetap tinggal di rumah meski kondisi masih berlumpur. Di meunasah sudah terlalu padat. Ada juga warga yang benar-benar kehilangan rumah, jadi mereka memilih bertahan di sini.
Kini harapan Sayuti bertumpu pada satu hal: kesempatan untuk tetap melanjutkan pendidikan. Sebagai mahasiswa tingkat akhir yang tengah menyusun skripsi, ia dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa tak ada lagi harta yang bisa dijual untuk biaya kuliah. Tidak ada yang tersisa untuk membiayai pendidikan. Entah bagaimana mereka bisa melanjutkan.
Sayuti dan keluarganya kini memulai hidup dari nol. Dari tumpukan lumpur, dari kenangan tentang padi yang hanyut, dan dari harapan yang tetap mereka jaga agar tak ikut tenggelam bersama banjir. Sawah mereka belum tentu bisa dipakai karena irigasi sudah rusak. Di kampung itu, rumah-rumah panggung dari kayu remuk seperti puzzle yang dibanting. Jalanan berlumpur. Sisa-sisa kehidupan bergelimpangan tanpa bentuk.
Rumah masih ada, tapi kehidupan telah pergi. Ya, mereka harus mulai dari nol.
0 Komentar